KUALITAS air Sungai Brantas semakin memburuk. Dari penelitian komunitas Forum Kali Brantas Kediri, pencemaran sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa itu berasal dari sampah rumah tangga seperti plastik sekali pakai dan residu cair. Sampel juga menunjukkan bahwa aliran air sudah terkontaminasi limbah industri.
“Temuan itu kami dapatkan ketika melakukan Ekspedisi Kali Brantas pada tahun 2023,” kata Chandra Iman Asrori, Koordinator Forum Kali Brantas Kediri, Selasa, 20 Mei 2025.
Selama sebulan, mahasiswa semester delapan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Nusantara PGRI Kediri itu menyusuri Sungai Brantas bersama sepuluh temannya. Ekspedisi dimulai dari Kediri, Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, dan Surabaya.
Satu per satu industri dikunjungi untuk mengambil sampel limbah yang dibuang. Di antaranya di pabrik gula, tahu, kertas, furniture, dan penyedap makanan. Mereka mengambil sampel air kemudian diuji menggunakan multiparameter water quality test.
Hasilnya, lebih dari sepuluh sampel yang dikumpulkan teridentifikasi mencemari lingkungan. Limbah berwarna hitam, putih, dan coklat mengalir dari pipa-pipa milik perusahaan. Baunya berbeda-beda, namun didominasi hidrogen sulfida atau seperti telur busuk.

“Beberapa pabrik membuang limbahnya ketika malam hari agar tidak ketahuan warga,” ungkap pria 22 tahun itu.
Menurutnya, pabrik seharusnya mengolah limbah sebelum dibuang ke sungai. Mereka juga melanggar Peraturan Pemerintah RI No. 22 Tahun 2021 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Di dalamnya mengatur tentang standart baku mutu fosfat maksimal 0,2 miligram per liter air.
Dari temuan lapangan, kadar fosfat limbah industri dan rumah tangga mencapai 4-8 miligram per liter. Forum Kali Brantas Kediri lalu menyampaikan hasil itu kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur agar segera dicarikan solusi.
“Data temuan lapangan itu kami advokasikan sebagai bentuk kepedulian lingkungan, utamanya sungai,” ujar Chandra.

Didirikan pada 27 Oktober 2022 di Taman Sekartaji, Forum Kali Brantas Kediri merupakan perhimpunan komunitas pelestari lingkungan di sepanjang Daerah Aliran Sungi (DAS) Brantas. Komunitas ini terbentuk dari kegelisahan para aktivis lingkungan atas pencemaran Sungai Brantas yang semakin parah.
Tiga pilar gerakan komunitas ini adalah riset, edukasi, dan advokasi. Misinya yaitu pemulihan ekosistem sungai sepanjang 320 kilometer itu, serta penyelamatan dari limbah dan sampah plastik.
Forum ini juga berkolaborasi dengan Siswa Pecinta Alam atau Sispala, dan Mahasiswa Pecinta Alam atau Mapala. Misalnya pelajar dari SMAN 5 Taruna Brawijaya Kediri, SMKN 1 Ngasem, IAIN Kediri, UNP Kediri, dan UB Malang.
Selama tiga tahun berdiri, mereka rutin melakukan uji air Sungai Brantas setiap dua pekan pada hari rabu. Pengecekan terakhir menunjukkan fosfat 0,5 miligram per liter. Artinya, sungai sudah tercemar.
“Pencemaran sungai juga ditandai dengan banyaknya enceng gondok,” jelasnya.
Pria 22 tahun ini menjelaskan, pencemaran sungai terpanjang kedua ini terjadi mulai mendekati hulu hingga hilir. Namun, jenis pencemaran di setiap daerah berbeda-beda. Di kawasan Malang, polusi air didominasi sampah rumah tangga.
Data ini didapat ketika dia melanjutkan Ekspedisi Kali Brantas pada 2024. Rute yang awalnya mengarah ke utara berbalik menuju selatan. Perjalanan itu dimulai dari Kediri, Batu, Malang, dan Blitar.
Selain memantau kondisi sungai, ekspedisi kedua ini juga mengunjungi komunitas pegiat lingkungan di setiap daerah. Mereka belajar bersama tentang peradaban Sungai Brantas, mengkaji kebijakan dan hukum di setiap kota, dan membuka pelatihan para legal untuk komunitas.
Pada 2025, jangkauan wilayah riset akan diperluas hingga ke anak Sungai Brantas. Mereka berencana melakukan Ekspedisi Kali Kedak di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. (Dimas Eka Wijaya)






