ANAK bungsu John Lennon, Sean Taro Ono tampak gugup ketika mewakili The Beatles menerima Grammy Award 2025. Di atas panggung penghargaan musik paling prestisius di dunia itu, Sean bicara gelagapan bahkan seperti enggan menerima piala. “Saya seharusnya berada di sini bersama Giles Martin dan Paul McCartney. Dia melakukan pekerjaan luar biasa,” kata Sean.
Lewat lagu “Now and Then”, Beatles mengalahkan pesaing di kategori Best Rock Performance seperti Green Day, Pearl Jam, The Black Keys, dan Idles. Penghargaan ini tentu spektakuler, sekaligus anomali. Bagaimana bisa band yang sudah bubar pada 1970, muncul kembali 55 tahun kemudian, lalu dianugerahi Grammy.
Dari sekian karya Beatles, “Now and Then” memang bukan masterpiece. Lagu dengan nada dasar A minor itu mirip balada blues. Bedanya, unsur orkestra, melodi bass, dan overdub vocal yang diselipkan membuatnya terdengar megah. Sebenarnya aransemen musik seperti ini lebih cocok untuk lagu di album Paul McCartney, bukan The Beatles.
Sebagian kecil penggemar bahkan menganggap “Now and Then” bukan lagu. Karya ini hanya sekadar publikasi untuk memanjangkan kiprah Paul McCartney.
Tuduhan semacam itu tak begitu populer di kalangan pecinta The Beatles. Tapi mari jujur saja. Kekuatan lagu yang dirilis tahun 2023 ini bukan pada musiknya, namun kerinduan akan lagu baru The Beatles serta kisah di baliknya lah yang lebih menarik perhatian.
Single yang diklaim lagu terakhir The Beatles itu ditulis John Lennon pada 1978 atau dua tahun sebelum dia mati ditembak. John merekam piano dan vokalnya dengan latar suara kebisingan di rumahnya Dakota Building, New York City. Liriknya mengandung kerinduan John pada Ringo Starr, George Harrison, dan Paul Mccartney.
Hampir 15 tahun usai kematian John, tak ada yang tahu lagu ini eksis. Hingga pada Januari 1994, Yoko Ono, janda mendiang John tiba-tiba menyerahkan dua kaset pita pada Paul. Di badan kaset itu tertulis “for Paul” dengan goresan pena yang tergesa-gesa. Pertemuan Paul dan Yoko Ono sekaligus menamatkan “perang dingin” di antara keduanya.

Paul lalu mengajak dua personil The Beatles lainnya: Ringo Starr dan George Harrison untuk mengerjakan lagu itu pada 1995. Saat mendengar rekaman tersebut, George berkata, “Ini sampah”. Dia sudah mengisi beberapa aransemen gitar akustik dan elektrik, namun menolak melanjutkan pengerjaan. Lagu itu tak selesai hingga George meninggal pada 2001.
Selama bertahun-tahun, Paul bersikeras menyelesaikan penggarapan lagu tersebut. Sutradara film Lord of the Ring, Peter Jackson mengenalkan teknologi Artificial Intelligence (AI) pada Paul. Rekaman vokal dan piano berhasil dipisahkan dari suara bising dan desisan pita kaset. Suara samar John juga disempurnakan menggunakan AI generatif. Lewat teknologi itu, penggemar kembali bisa mendengarkan karya terbaru dari The Beatles.
“Ketika kami berada di studio, saya membayangkan John berada di bilik vokal. Kami seperti bekerja dengannya lagi, itu menyenangkan,” kata Paul McCartney ketika diwawancarai BBC Radio.
Saat video klip “Now and Then” diunggah ke youtube pada 2023, John Lennon dan George Harrison muncul berkat efek CGI (Computer-Generated Imagery). Antara lagu dan video klip itu sama-sama menggambarkan kerinduan. Lirik yang diciptakan John menceritakan rasa kangen pada Paul, Ringo, dan George. Sedangkan di video musik menampilkan rindu Paul dan Ringo pada sosok John dan George yang telah wafat.
“Now and Then” boleh diklaim lagu terakhir The Beatles. Namun, bukan berarti yang terakhir bagi John Lennon. Lagu itu sangat mungkin hanya satu di antara sekian rekaman demo yang masih tersimpan di laci mejanya. Misalnya, potongan lagu “Radio Peace” dan “Give Peace a Chance” yang terkuak dari rekaman wawancara John tahun 1970. Publik baru mengetahui lagu itu saat lelang barang tua di Denmark pada 2022.
Apakah ke depan akan muncul lagu baru dari John Lennon atau The Beatles? Jawabannya, tergantung keputusan Yoko Ono. Tanpa kehendak Yoko yang menyerahkan kaset pada Paul, maka selamanya lagu itu akan tersembunyi.
Penggarapan lagu “Now And Then”, bagi Paul McCartney lebih dari sekadar proyek ambisius. Perlu kegigihan, kesabaran, dan sentuhan keajaiban teknologi, sehingga produksinya menghabiskan waktu 40 tahun.
Lewat lagu itu, Paul seperti hendak mengukuhkan kebesaran The Beatles. John Lennon awalnya memberi judul lagu itu “I Don’t Want Lose You”. Namun, Paul menggantinya menjadi “Now and Then”. Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya Sekarang dan Nanti, mewakili karya-karya The Beatles yang akan abadi dan terus dinikmati dari generasi ke generasi. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post