• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 10 December 2025
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

14 Nov 2025
in PEOPLE
Reading Time: 2 mins read
0
Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

LIMA bunker tinggalan Belanda menempel di tebing bukit Mendalan, Desa Pondok Agung, Kasembon, Malang. Gerbang serta dinding beton sebagian tertutup vegetasi liar. Saat Kediripedia.com membuka salah satu pintu raksasa itu, terdapat belasan drum minyak terbengkalai.

Masyarakat sekitar menyebutnya Benteng Parasbang. Bangunan bekas kolonial ini sekarang menjadi aset Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mendalan. Jarak antara bunker dan PLTA sekitar 600 meter.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Yayasan Tifa: Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah Pelanggaran HAM Struktural

Di Munjungan Trenggalek, Undangan Nikah Dipajang di Jalan dengan Banner Mirip Caleg

Kiai dan Pesantren Tak Pantas Dijadikan Bahan Olok-olok

“Bangunan itu dulu difungsikan sebagai gudang peralatan PLTA era Belanda,” ujar Bambang, salah seorang karyawan PLTA, pada Senin, 27 Oktober 2025.

Selain menyimpan perkakas, bunker digunakan menyimpan senjata. Area bukit Mendalan juga difungsikan sebagai pos penjagaan. Kisah ini diperoleh Bambang dari ayahnya yang dulu bekerja di PLTA saat zaman Belanda.

Belasan drum minyak di bunker Mendalan. (Foto: Arin)

Pembangkit listrik itu didirikan tahun 1927 di bawah naungan NIWEM (Nederlandsch of Indische Water Kracht Electricitiet Maatscapppy). Hydropower ini menjadi yang tertua di Unit Pembangkitan (UP) Brantas yang dibangun Belanda.

Berada di kawasan perbatasan Kediri-Malang, bunker itu juga menjadi saksi bisu pertempuran Agresi Militer Belanda 2 pada 1949. Tentara Indonesia hendak menghancurkan PLTA agar tak bisa dimanfaatkan Belanda. Strategi militer ini populer dengan taktik bumi hangus.

“Perlawanan masyarakat di Kasembon dikenal dengan Palagan Mendalan,” kata Achmad Zainal Facris, Pembina komunitas Pelestari Sejarah–Budhaya Kadhiri (PASAK).

Hal itu disebutkan pada buku Monumen Perjuangan Jawa Timur yang terbit tahun 1986. Ratusan pemuda bergabung dengan TNI untuk bertempur bersama-sama. Mereka bersenjatakan tombak, bambu runcing, pedang, bahkan cangkul. Pemuda-pemuda itu menggunakan bunker sebagai persembunyian.

Bukit Parasbang, tempat pertempuran pasukan Indonesia melawan Belanda saat Agresi Militer 2. (Foto: Arin)

Namun, serdadu Belanda membalas dengan serangan pesawat mustang yang memuntahkan bom dari udara. Sedikitnya 77 prajurit TNI gugur akibat peristiwa tersebut.

Salah satunya Soediarto, tentara dari Kompi III Batalyon Soenandar yang  bertarung menggunakan pedang. Kisah heroik perebutan wilayah ini diabadikan lewat Monumen Palagan Mendalan di Ngantang.

Menurut Facris, bangunan kuno itu sarat narasi konflik, perlawanan rakyat, dan kearifan lokal. Sehingga, bunker  tersebut layak dijadikan cagar budaya. Bunker itu bukan sekadar batu dan besi tua, melainkan simbol semangat rakyat mempertahankan kedaulatan atas tanah dan sumber daya mereka. (Arinda Nadzwa, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#SEJARAH
Previous Post

Kawanan Kera yang Tak Pernah Pergi dari Makam Ngujang Tulungagung

Next Post

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Next Post
Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (109)
  • DESTINASI (109)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (204)
  • KULTUR (221)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA