LIMA bunker tinggalan Belanda menempel di tebing bukit Mendalan, Desa Pondok Agung, Kasembon, Malang. Gerbang serta dinding beton sebagian tertutup vegetasi liar. Saat Kediripedia.com membuka salah satu pintu raksasa itu, terdapat belasan drum minyak terbengkalai.
Masyarakat sekitar menyebutnya Benteng Parasbang. Bangunan bekas kolonial ini sekarang menjadi aset Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mendalan. Jarak antara bunker dan PLTA sekitar 600 meter.
“Bangunan itu dulu difungsikan sebagai gudang peralatan PLTA era Belanda,” ujar Bambang, salah seorang karyawan PLTA, pada Senin, 27 Oktober 2025.
Selain menyimpan perkakas, bunker digunakan menyimpan senjata. Area bukit Mendalan juga difungsikan sebagai pos penjagaan. Kisah ini diperoleh Bambang dari ayahnya yang dulu bekerja di PLTA saat zaman Belanda.

Pembangkit listrik itu didirikan tahun 1927 di bawah naungan NIWEM (Nederlandsch of Indische Water Kracht Electricitiet Maatscapppy). Hydropower ini menjadi yang tertua di Unit Pembangkitan (UP) Brantas yang dibangun Belanda.
Berada di kawasan perbatasan Kediri-Malang, bunker itu juga menjadi saksi bisu pertempuran Agresi Militer Belanda 2 pada 1949. Tentara Indonesia hendak menghancurkan PLTA agar tak bisa dimanfaatkan Belanda. Strategi militer ini populer dengan taktik bumi hangus.
“Perlawanan masyarakat di Kasembon dikenal dengan Palagan Mendalan,” kata Achmad Zainal Facris, Pembina komunitas Pelestari Sejarah–Budhaya Kadhiri (PASAK).
Hal itu disebutkan pada buku Monumen Perjuangan Jawa Timur yang terbit tahun 1986. Ratusan pemuda bergabung dengan TNI untuk bertempur bersama-sama. Mereka bersenjatakan tombak, bambu runcing, pedang, bahkan cangkul. Pemuda-pemuda itu menggunakan bunker sebagai persembunyian.

Namun, serdadu Belanda membalas dengan serangan pesawat mustang yang memuntahkan bom dari udara. Sedikitnya 77 prajurit TNI gugur akibat peristiwa tersebut.
Salah satunya Soediarto, tentara dari Kompi III Batalyon Soenandar yang bertarung menggunakan pedang. Kisah heroik perebutan wilayah ini diabadikan lewat Monumen Palagan Mendalan di Ngantang.
Menurut Facris, bangunan kuno itu sarat narasi konflik, perlawanan rakyat, dan kearifan lokal. Sehingga, bunker tersebut layak dijadikan cagar budaya. Bunker itu bukan sekadar batu dan besi tua, melainkan simbol semangat rakyat mempertahankan kedaulatan atas tanah dan sumber daya mereka. (Arinda Nadzwa, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post