• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 10 December 2025
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Kawanan Kera yang Tak Pernah Pergi dari Makam Ngujang Tulungagung

13 Nov 2025
in DESTINASI
Reading Time: 2 mins read
0
Kawanan Kera yang Tak Pernah Pergi dari Makam Ngujang Tulungagung

Kawanan kera ekor panjang di makam Ngujang Tulungagung. (Foto: Rosyta)

KAWANAN monyet melompat lincah di atas kijing Makam Ngujang Tulungagung. Ada yang berkeliaran di pepohonan. Sebagian lainnya duduk santai mengunyah kacang dan pisang pemberian warga sekitar.

Sejak puluhan tahun lalu, primata berjenis kera ekor panjang hidup berdampingan dengan masyarakat. Makam yang menjadi habitat mereka hanya berjarak sekitar 100 meter dengan pemukiman. Pemakaman di pinggir Sungai Brantas itu dikenal pula sebagai objek Wisata Kethekan. Dalam bahasa Jawa kethek berarti monyet.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Mengungkap Fabel Kuno Abad ke-14 pada Relief Candi Surowono

Dua Wajah Pasar Setono Betek Kediri: Pagi Tradisional, Malam Skena

Berkunjung ke Pabrik Senjata Manusia Purba di Ponorogo

“Masyarakat menyebutnya kera abo-abo karena warnanya abu-abu menyerupai batu nisan,” kata Ribut Katenan, juru kunci makam pada Jumat, 31 Oktober 2025.

Ribut tak mengetahui pasti berapa lama kawanan kera itu menempati area pemakaman. Kemungkinan sudah puluhan atau ratusan tahun silam, bahkan sebelum adanya pemukiman Desa Ngujang. Monyet tersebut juga seringkali bergelantungan di jembatan penghubung Tulungagung-Kediri yang terletak di timur makam.

Gerbang masuk Wisata Kethekan Tulungagung. (Foto: Rosyta)

Jumlah populasi primata bernama latin Macaca Fascicularis itu diperkirakan mencapai ratusan. Selama ini, mereka nyaris tak pernah berkonflik dengan pengendara maupun penduduk sekitar.

“Selain bergantung dengan alam, mereka juga bergantung pada manusia. Masyarakat sekitar juga selalu memberi makan kera-kera itu,” ujar Ribut.

Dia membantah mitos yang selama ini mengatakan bahwa kera Ngujang adalah jelmaan makhluk gaib. Narasi itu beredar bukan hanya di Tulungagung, melainkan hingga ke daerah-daerah sekitarnya. Selain jelmaan, kabar yang berkembang menyebut jika jumlah monyet tersebut tetap. Tak berkurang atau bertambah.

“Kera ini merupakan satwa liar. Kera-kera disini terbentuk secara alami menduduki wilayah yang menyediakan makanan,” kata Dafid Fathur Rohman, Kepala Resort Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) wilayah 01 Kediri.

Menurut Dafid monyet ekor panjang belum ditetapkan sebagai satwa dilindungi di Indonesia. Sebab, hewan tersebut saat ini belum terancam punah.

Meski begitu, primata di makam Ngujang Tulungagung  tetap menjadi bagian penting ekosistem. Keseharian warga dan monyet ekor panjang adalah potret bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Konflik tak akan pernah ada, jika satwa tak kehilangan habitatnya. (Rosyta Aprilia Damatari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline
Previous Post

BWCF 2025: Membaca Sejarah Islam Indonesia Melalui Estetika Nisan

Next Post

Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

Next Post
Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (109)
  • DESTINASI (109)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (204)
  • KULTUR (221)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA