KAWANAN monyet melompat lincah di atas kijing Makam Ngujang Tulungagung. Ada yang berkeliaran di pepohonan. Sebagian lainnya duduk santai mengunyah kacang dan pisang pemberian warga sekitar.
Sejak puluhan tahun lalu, primata berjenis kera ekor panjang hidup berdampingan dengan masyarakat. Makam yang menjadi habitat mereka hanya berjarak sekitar 100 meter dengan pemukiman. Pemakaman di pinggir Sungai Brantas itu dikenal pula sebagai objek Wisata Kethekan. Dalam bahasa Jawa kethek berarti monyet.
“Masyarakat menyebutnya kera abo-abo karena warnanya abu-abu menyerupai batu nisan,” kata Ribut Katenan, juru kunci makam pada Jumat, 31 Oktober 2025.
Ribut tak mengetahui pasti berapa lama kawanan kera itu menempati area pemakaman. Kemungkinan sudah puluhan atau ratusan tahun silam, bahkan sebelum adanya pemukiman Desa Ngujang. Monyet tersebut juga seringkali bergelantungan di jembatan penghubung Tulungagung-Kediri yang terletak di timur makam.

Jumlah populasi primata bernama latin Macaca Fascicularis itu diperkirakan mencapai ratusan. Selama ini, mereka nyaris tak pernah berkonflik dengan pengendara maupun penduduk sekitar.
“Selain bergantung dengan alam, mereka juga bergantung pada manusia. Masyarakat sekitar juga selalu memberi makan kera-kera itu,” ujar Ribut.
Dia membantah mitos yang selama ini mengatakan bahwa kera Ngujang adalah jelmaan makhluk gaib. Narasi itu beredar bukan hanya di Tulungagung, melainkan hingga ke daerah-daerah sekitarnya. Selain jelmaan, kabar yang berkembang menyebut jika jumlah monyet tersebut tetap. Tak berkurang atau bertambah.
“Kera ini merupakan satwa liar. Kera-kera disini terbentuk secara alami menduduki wilayah yang menyediakan makanan,” kata Dafid Fathur Rohman, Kepala Resort Konservasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) wilayah 01 Kediri.
Menurut Dafid monyet ekor panjang belum ditetapkan sebagai satwa dilindungi di Indonesia. Sebab, hewan tersebut saat ini belum terancam punah.
Meski begitu, primata di makam Ngujang Tulungagung tetap menjadi bagian penting ekosistem. Keseharian warga dan monyet ekor panjang adalah potret bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Konflik tak akan pernah ada, jika satwa tak kehilangan habitatnya. (Rosyta Aprilia Damatari, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post