Pada 4 Oktober 2025 mendatang, buku berjudul Reset Indonesia secara resmi akan diedarkan. Di dalamnya memuat beberapa hal penting mengenai keresahan dan gagasan tentang Indonesia baru. Tulisan ini merupakan buah refleksi dari perjalanan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009), Ekspedisi Indonesia Biru (2015), hingga Ekspedisi Indonesia Baru (2022)
Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu merupakan empat generasi jurnalis dari Boomer hingga Gen Z yang melakukan reportase panjang. Mereka telah melakukan tiga kali ekspedisi keliling Indonesia sejak 2009 hingga 2023 dan melahirkan sejumlah karya, seperti film dokumenter Sexy Killers atau Dirty Vote. Ketika menuliskan dalam sebuah buku mereka sempat terfikir memberi judul “Restart Indonesia.”
“Ternyata reset memang lebih pas menggambarkan isi buku, yang memang menyodorkan tawaran untuk memprogram ulang Indonesia. Tak hanya restart,” ujar Farid Gaban, penulis utama buku ini.
Meski baru dirilis Oktober, penulisan buku Reset Indonesia telah dirintis sejak 15 tahun lalu. Saat itu Farid Gaban menyelesaikan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa bersama jurnalis Ahmad Yunus. Selanjutnya materi diperkaya dari hasil perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru yang dilakukan Dandhy Laksono bersama fotografer Suparta ‘Ucok’ Arz sepanjang tahun 2015.
Pada tahun 2022 hingga 2023, Farid dan Dandhy berkolaborasi dalam Ekspedisi Indonesia Baru. Mereka juga melibatkan dua jurnalis muda yaitu, Yusuf Priambodo dan Benaya Harobu.
Dari ketiga ekspedisi selama 15 tahun itu, mereka telah merilis 20 film dokumenter yang berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk rumah produksi Watchdoc. Namun, berbagai persoalan tentang Indonesia tak cukup jika divisualkan. Maka, pembuatan buku menjadi pilihan untuk berekspresi dan mengasah gagasan.

“Reset Indonesia adalah ajakan untuk mengurai ulang akar persoalan bangsa dan membayangkan kemungkinan Indonesia yang baru,” ujar Benaya Harobu, kelahiran tahun 2000 asal Sumba.
Bagi dua jurnalis senior Farid Gaban dan Dandhy Laksono, Indonesia adalah wajah-wajah nelayan di pulau kecil, para petani di pedalaman, hingga suara komunitas adat yang sering tak terdengar di ruang-ruang kebijakan. Sedangkan bagi jurnalis muda seperti Yusuf dan Ben, isu mereka adalah menjadi “generasi sandwich”, ancaman sulit mendapatkan pekerjaan atau memiliki tanah dan membeli rumah, hingga biaya pernikahan yang mahal, baika karena inflasi ekonomi atau alasan adat.
Pengalaman empat generasi itulah yang dirangkum dalam buku Reset Indonesia. Reset Indonesia menawarkan refleksi pengalaman langsung bertemu berbagai aspirasi warga dan menjelajahi ribuan kilometer bisa menjadi pedoman untuk membayangkan masa depan Indonesia yang lebih adil dan setara.
Sejak sampulnya dipublikasikan, buku kolaborasi antara Koperasi Indonesia Baru, Komunitas Bambu, dan patjar merah ini telah diminati 2.000 pemesan awal dan segera beredar melalui toko-toko buku seluruh Indonesia.
“Tadinya kami akan cetak 1.500 buku. Tapi prapesan baru dibuka 5 hari sudah tembus 1.000 eksemplar. Jadinya kami cetak lebih,” kata Susi Haryanti, Direktur Koperasi Indonesia Baru selaku penerbit.
Dandhy sebagai salah satu penulis berharap buku ini bisa dibaca oleh jutaan orang. Dia menganalogikan “Jika film horor di bioskop bisa dapat 4 juta penonton, ini ada buku yang isinya tak kalah horor.” (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post