• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 19 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Mengungkap Kematian Musso, Pemimpin Kudeta 1948 di Madiun

01 Oct 2025
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
Mengungkap Kematian Musso, Pemimpin Kudeta 1948 di Madiun

Munawar Musso, pemimpin PKI. (Sumber foto: De Waarheid newspaper)

SUMUR tua di  Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Ponorogo itu dibiarkan tak terawat. Tembok kamar mandi di sebelahnya sudah roboh. Hanya tersisa pecahan genteng, bak semen, dan jamban. Di tempat inilah Munawar Musso—petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI)—dieksekusi pada Minggu, 31 Oktober 1948.

Tokoh sentral Madiun Affair atau Pemberontakan PKI Madiun itu lari ke Ponorogo setelah gagal mendirikan negara Republik Indonesia Soviet. Diburu Tentara Nasional Indonesia (TNI), dia menyamar jadi pedagang buah di Semanding. Namun, identitasnya terbongkar lalu berlari ke kamar mandi milik Haji Sidik, salah seorang warga.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Dalam kondisi terjepit, dia menolak menyerah hingga akhirnya diberondong tembakan. Mantan kasir Kantor Pos Surabaya itu terkapar di dekat jamban. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, warga menemukan bercak darah di sekitar sumur.

“Sekarang sumurnya kering, sudah tak dipakai lagi,” kata Imron, cucu Haji Sidik pada Minggu, 21 September 2025.

Tanah lapang di sekitar sumur itu sering digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Tak ada kesan angker di tempat terbunuhnya tokoh berjuluk Tuan Mussotte itu.

Kamar mandi milik Haji Sidik, tempat terbunuhnya Musso. (Foto: Munir)

Menurut Imron, Musso datang ke Semanding mengendarai delman. Dari jalan besar, dia lari ke sumur untuk menghindari kejaran TNI. Kisah ini kerap dituturkan kakeknya, Haji Sidik. Usai ditembak di sumur, jenazahnya dibawa ke rumah sakit yang sekarang jadi SMPN 1 Ponorogo.

Kisah eksekusi Musso di sumur Desa Semanding juga ditulis Harry A. Poeze, peneliti Belanda dalam bukunya “Madiun 1948 PKI Bergerak”. Lahir di Kediri pada 1897, Musso digambarkan bertubuh pendek, gemuk, kekar, dengan lagak gaya seorang pemimpin. Salah satu murid HOS Cokroaminoto ini dikenal sebagai pembicara ulung dengan bahasa agitatif dan lugas.

“Musso hampir 12 tahun memperdalam ilmu komunis di Uni Soviet. Dia kembali ke Indonesia pada Agustus 1948,” kata Septian Dwita Kharisma, sejarawan Madiun.

Dia menjelaskan, Musso pulang saat sedang panas-panasnya konflik Muhammad Hatta dan golongan kiri yang diwakili Amir Sjarifuddin. Jabatan Amir sebagai Perdana Menteri digantikan Hatta. Kebijakan Rekonstruksi dan Rekonsiliasi (RERA) dibentuk. Bagi kaum kiri, aturan ini dianggap merugikan karena mengurangi kekuatan militer Indonesia.

Untuk menandingi Kabinet Hatta, Amir mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948. Kelompok oposisi ini terdiri dari Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Buruh Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, dan Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia.

“Musso memaparkan konsep politik Jalan Baru. Ini konfrontasi terhadap pemerintah borjuis Soekarno-Hatta,” ujar Septian.

Musso dan Amir menghimpun massa di Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Di tengah-tengah safari itu meletuslah Madiun Affair. Pada 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Dari peristiwa inilah, perang antara PKI dan pasukan Indonesia dimulai.

Pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer untuk menumpas pemberontakan PKI. Pasukan pendukung Musso digempur serdadu Divisi I yang dikomandoi Kolonel Soengkono, Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, Divisi III Siliwangi, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur.

Pada 30 September 1948, Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Tokoh-tokoh PKI ditangkap, sebagian melarikan diri ke Cina dan Vietnam. Sedangkan Musso tewas ditembak di Desa Semanding pada 31 Oktober 1948. Jasad Musso kemudian diobservasi di Alun-alun Ponorogo. Tubuhnya dipotret serta dipamerkan ke masyarakat. Setelah itu konon jenazah tidak dikuburkan, tapi dibakar sampai abunya berserakan di alun-alun.

Mayat Musso di rumah sakit di Ponorogo. (Foto: Pitojo, R.M-KITLV)

Hingga dua bulan kemudian, suasana desa-desa di Ponorogo masih mencekam. Tentara menyisir kampung, mencari sisa-sisa pengikut Musso. Anak-anak kecil dilarang keluar rumah selepas maghrib. Para kepala desa ditanyai apakah ada warga yang memberi makan atau tempat singgah. Namun satu yang pasti, kematian Musso di dekat jamban warga Semanding, Ponorogo menandai berakhirnya perlawanan PKI 1948. (Miftahul Munir, Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#ponorogo#SEJARAH
Previous Post

Pencabutan Kartu Pers Istana Wartawan CNN Diprotes Organisasi Jurnalis dan Dewan Pers

Next Post

Batu Beraksara Kuadrat Zaman Hindu-Buddha di Masjid Hasan Besari Ponorogo

Next Post
Batu Beraksara Kuadrat Zaman Hindu-Buddha di Masjid Hasan Besari Ponorogo

Batu Beraksara Kuadrat Zaman Hindu-Buddha di Masjid Hasan Besari Ponorogo

Dinobatkan Makanan Terenak di Dunia, Rawon Eksis Sejak Era Jawa Kuno

Dinobatkan Makanan Terenak di Dunia, Rawon Eksis Sejak Era Jawa Kuno

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA