SUMUR tua di Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Ponorogo itu dibiarkan tak terawat. Tembok kamar mandi di sebelahnya sudah roboh. Hanya tersisa pecahan genteng, bak semen, dan jamban. Di tempat inilah Munawar Musso—petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI)—dieksekusi pada Minggu, 31 Oktober 1948.
Tokoh sentral Madiun Affair atau Pemberontakan PKI Madiun itu lari ke Ponorogo setelah gagal mendirikan negara Republik Indonesia Soviet. Diburu Tentara Nasional Indonesia (TNI), dia menyamar jadi pedagang buah di Semanding. Namun, identitasnya terbongkar lalu berlari ke kamar mandi milik Haji Sidik, salah seorang warga.
Dalam kondisi terjepit, dia menolak menyerah hingga akhirnya diberondong tembakan. Mantan kasir Kantor Pos Surabaya itu terkapar di dekat jamban. Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, warga menemukan bercak darah di sekitar sumur.
“Sekarang sumurnya kering, sudah tak dipakai lagi,” kata Imron, cucu Haji Sidik pada Minggu, 21 September 2025.
Tanah lapang di sekitar sumur itu sering digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Tak ada kesan angker di tempat terbunuhnya tokoh berjuluk Tuan Mussotte itu.

Menurut Imron, Musso datang ke Semanding mengendarai delman. Dari jalan besar, dia lari ke sumur untuk menghindari kejaran TNI. Kisah ini kerap dituturkan kakeknya, Haji Sidik. Usai ditembak di sumur, jenazahnya dibawa ke rumah sakit yang sekarang jadi SMPN 1 Ponorogo.
Kisah eksekusi Musso di sumur Desa Semanding juga ditulis Harry A. Poeze, peneliti Belanda dalam bukunya “Madiun 1948 PKI Bergerak”. Lahir di Kediri pada 1897, Musso digambarkan bertubuh pendek, gemuk, kekar, dengan lagak gaya seorang pemimpin. Salah satu murid HOS Cokroaminoto ini dikenal sebagai pembicara ulung dengan bahasa agitatif dan lugas.
“Musso hampir 12 tahun memperdalam ilmu komunis di Uni Soviet. Dia kembali ke Indonesia pada Agustus 1948,” kata Septian Dwita Kharisma, sejarawan Madiun.
Dia menjelaskan, Musso pulang saat sedang panas-panasnya konflik Muhammad Hatta dan golongan kiri yang diwakili Amir Sjarifuddin. Jabatan Amir sebagai Perdana Menteri digantikan Hatta. Kebijakan Rekonstruksi dan Rekonsiliasi (RERA) dibentuk. Bagi kaum kiri, aturan ini dianggap merugikan karena mengurangi kekuatan militer Indonesia.
Untuk menandingi Kabinet Hatta, Amir mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948. Kelompok oposisi ini terdiri dari Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Buruh Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, Pemuda Sosialis Indonesia, dan Sarekat Buruh Perkebunan Indonesia.
“Musso memaparkan konsep politik Jalan Baru. Ini konfrontasi terhadap pemerintah borjuis Soekarno-Hatta,” ujar Septian.
Musso dan Amir menghimpun massa di Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Di tengah-tengah safari itu meletuslah Madiun Affair. Pada 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Dari peristiwa inilah, perang antara PKI dan pasukan Indonesia dimulai.
Pemerintah Indonesia melancarkan operasi militer untuk menumpas pemberontakan PKI. Pasukan pendukung Musso digempur serdadu Divisi I yang dikomandoi Kolonel Soengkono, Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto, Divisi III Siliwangi, serta pasukan Mobile Brigade Besar (MBB) Jawa Timur.
Pada 30 September 1948, Madiun dapat dikuasai seluruhnya. Tokoh-tokoh PKI ditangkap, sebagian melarikan diri ke Cina dan Vietnam. Sedangkan Musso tewas ditembak di Desa Semanding pada 31 Oktober 1948. Jasad Musso kemudian diobservasi di Alun-alun Ponorogo. Tubuhnya dipotret serta dipamerkan ke masyarakat. Setelah itu konon jenazah tidak dikuburkan, tapi dibakar sampai abunya berserakan di alun-alun.

Hingga dua bulan kemudian, suasana desa-desa di Ponorogo masih mencekam. Tentara menyisir kampung, mencari sisa-sisa pengikut Musso. Anak-anak kecil dilarang keluar rumah selepas maghrib. Para kepala desa ditanyai apakah ada warga yang memberi makan atau tempat singgah. Namun satu yang pasti, kematian Musso di dekat jamban warga Semanding, Ponorogo menandai berakhirnya perlawanan PKI 1948. (Miftahul Munir, Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)






