• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Thursday, 23 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Batu Beraksara Kuadrat Zaman Hindu-Buddha di Masjid Hasan Besari Ponorogo

02 Oct 2025
in DESTINASI
Reading Time: 3 mins read
Batu Beraksara Kuadrat Zaman Hindu-Buddha di Masjid Hasan Besari Ponorogo

Seorang peziarah masuk ke Masjid Tegalsari Ponorogo. (Foto: Hasbi)

TIGA balok batu andesit menempel di tangga Masjid Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Masyarakat sekitar menyebutnya watu bancik yang berarti pijakan. Fungsinya tak lebih sebagai injakan jamaah ketika masuk masjid yang didirikan Kiai Ageng Hasan Besari pada abad ke-18 itu.

Menariknya, pada salah satu batu terdapat ukiran seperti relief. Arkeolog Titi Surti Nastiti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pernah meneliti benda tersebut pada 1996. Hasilnya, ukiran itu menunjukkan aksara kuadrat bertuliskan angka 1041 Saka. Jika dikonversi ke masehi, maka tahunnya menjadi 1119.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Gunung Sari, Makam di Antara Kisah Laskar Diponegoro dan Sekartaji

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

“Sebenarnya tidak hanya masjid yang harus dijaga pelestariannya, namun juga batu yang berada di depan masjid ini,” kata  Arifin Basuki, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Ponorogo, Selasa, 23 September 2025.

Arif menjelaskan, tulisan aksara kuadrat itu layak dikaji lebih mendalam. Misalnya berangkat dari pertanyaan sederhana, apa maksud angka tahun itu. Sayangnya, ukiran tersebut kini sudah aus. Renovasi halaman masjid pada 2019 juga membuat batu itu sudah menempel dengan lantai tangga.

Jika merujuk angka 1119, maka besar kemungkinan batu itu berasal dari era kerajaan Hindu-Budha. Dari kajian sejarah, benda purbakala tersebut menjadi bukti berlapisnya peradaban masyarakat Ponorogo. Jauh sebelum Islam masuk, masyarakat lebih dulu mengenal kepercayaan lain.

“Belum ada kesimpulan batu itu dari era siapa dan apa fungsinya. Dugaan sementara, itu digunakan sebagai sarana beribadah umat Hindu,” kata Arif.

Menurutnya, keberadaan batu bersejarah bisa menguatkan identitas lokal. Warga memiliki warisan yang layak dibanggakan. Sehingga, tumbuh rasa solidaritas melestarikan masjid dan lingkungannya. Batu itu sering dijadikan bahan cerita oleh para sesepuh kepada anak muda. Dari situ bisa muncul proses pewarisan nilai-nilai. Bukan hanya sejarah Islam, tetapi juga etika sosial menjaga benda peninggalan leluhur.

Aksara kuadrat tak lagi bisa dibaca karena tertutup material cor. (Foto: Hasbi)

Dari cerita tutur yang berkembang, batu tersebut dulunya digunakan Kiai Hasan Besari sebagai alas duduk ketika berdzikir. Dari tempat ini, agama Islam mulai disebarkan di kawasan Ponorogo. Ronggowarsito, pujangga jawa; Kiai Abdul Mannan, pendiri Pesantren Tremas; Pakubuwono II, Raja Surakarta; dan Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto, pernah nyantri di pesantren Tegalsari.

Renovasi halaman beberapa tahun lalu sebenarnya bertujuan memberi kenyamanan bagi para perziarah. Di sisi lain, perbaikan menyebabkan batu bernilai sejarah itu tertutup material cor. Pihak pengurus masjid berencana memindahkan batu tersebut.

“Mengangkat batu ini memerlukan bantuan alat berat, mungkin nanti bisa dilakukan bersamaan dengan penataan ulang pada serambi luar masjid ini,” kata Hamdan Rifai, Ketua Yayasan Kyai Ageng Muhammad Besari Tegalsari Ponorogo.

Penataan ulang sudah mulai berjalan dengan apembelian bahan bangunan seperti material kayu untuk pembuatan tiang. Rencananya, posisi lantai serambi bagian luar akan disamakan dengan bagian dalam masjid.

Di Ponorogo, batu dengan bentuk serupa juga ditemukan di pintu makam Bathoro Katong dan di depan supermarket Kecamatan Kauman. Sama seperti di Masjid Tegalsari, hingga kini masih belum ada penelitian mendalam pada benda-benda purbakala tersebut. (Ahmad Hasbi Ashshidiqi,Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#ponorogo#SEJARAH
Previous Post

Mengungkap Kematian Musso, Pemimpin Kudeta 1948 di Madiun

Next Post

Dinobatkan Makanan Terenak di Dunia, Rawon Eksis Sejak Era Jawa Kuno

Next Post
Dinobatkan Makanan Terenak di Dunia, Rawon Eksis Sejak Era Jawa Kuno

Dinobatkan Makanan Terenak di Dunia, Rawon Eksis Sejak Era Jawa Kuno

Kementerian Kebudayaan Promosikan Budaya Nonton Film

Kementerian Kebudayaan Promosikan Budaya Nonton Film

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA