Rawon dinobatkan sebagai sup terenak di dunia menurut Taste Atlas pada 2023. Situs ensiklopedia makanan internasional itu menempatkan rawon di posisi teratas. Sup daging kuah hitam ini mendapat rating 4.8, mengalahkan ramen Jepang dan sopa de lima Meksiko.
Siapa sangka, kuliner berbahan dasar rempah dan keluak ini sudah eksis sejak periode Jawa Kuno. Mayoritas tulisan populer di media massa menyebut hidangan ini tercatat dalam Prasasti Taji tahun 901 Masehi dari Ponorogo.
Namun, Izzudin Rijal Fahmi, pegiat sejarah serta aksara kuno Ponorogo membantah narasi tersebut. Dari penelitiannya, tidak ada kata rawon ditemukan di Prasasti Taji.
“Prasasti itu hanya mencatat makanan pokok masyarakat Jawa seperti nasi, kerbau, ayam, lauk asin, dendeng, ikan, dan telur,” kata Izzudin, Rabu, 16 September 2025.
Naskah tertua yang mencantumkan istilah rawon ditemukan di Kakawin Bhomakawya. Di dalam manuskrip ini tertulis kalimat “Enak ika rarawwan amareg-maregi” yang artinya rawon enak dan mengenyangkan. Buku tersebut dikarang Mpu Panuluh dari Kerajaan Kediri. Memuat kisah peperangan, panjangnya mencapai 1.492 bait. Syair itu merupakan yang terpanjang dalam sastra Jawa Kuno.

Menurut Izzudin, rawon diduga kuat berasal dari lingkungan istana. Karena berbahan dasar daging, hidangan ini lebih banyak dikonsumsi bangsawan kerajaan. Hal ini diperkuat dengan temuan Pusat Studi Makanan Tradisional Uiversitas Gajah Mada (UGM) pada 1997. Profesor Timbul Haryono, Guru Besar Arkeologi UGM memperkirakan rawon sudah dikenal masyarakat sejak seribu tahun silam.
“Di Surakarta, hidangan ini juga dikenal sebagai santapan favorit kalangan bangsawan,” ujar Izzudin.
Warna hitam kuah rawon berasal dari bahan utamanya, keluak. Keterangan ini dicatat dalam Serat Centhini yang terbit tahun 1814. Karya sastra Jawa ini berisi sejarah, filsafat, agama, mistisisme, tradisi, hingga seni. Dalam jilid II Serat Centhini, keluwak muncul ketika membahas beragam hidangan sesaji saat perayaan pernikahan.
Namun, resep lengkap rawon paling awal dimuat dalam Serat Wulangan Olah-Olah Warna-Warni. Kumpulan resep Keraton Mangkunegaran Surakarta ini diterbitkan tahun 1926.
Dalam kehidupan masyarakat Jawa sekarang, rawon kerap disajikan sebagai hidangan penghormatan tamu. Mulai pertemuan keluarga, pernikahan, sunatan, pertemuan adat, maupun tahlilan. Dari meja bangsawan, rawon kini dinikmati semua lapisan masyarakat. (Agil Budi Prayogo, Mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Ponorogo, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post