SEORANG tentara wanita Amerika menyeringai di dekat mayat tahanan penjara Abu Ghraib Irak pada 2004. Serdadu lainnya riang seperti perayaan kelulusan saat menganiaya prajurit Irak yang kalah perang. Mereka menelanjangi tawanan, menyetrum, memukul, lalu memotretnya. Lagu Californication dari band Red Hot Chili Peppers (RHCP) konon diputar selama penyiksaan.
Pasukan militer Amerika barangkali amat menyukai karya masterpiece grup bergenre funk itu. Di kamp penahanan Guantanamo, Abu Zubaydah, anggota Taliban Afghanistan dipaksa mendengarkan Californication selama 24 jam. Dia ditaruh di sel penjara gelap, diborgol di langit-langit, kemudian musik dimainkan dengan volume keras.
CIA (Central Intelligence Agency) menggunakan lagu RHCP saat interogasi, khusus tahanan terduga teroris. Menurut laporan Associated Press (AP), kantor berita nirlaba di New York pada 2008, pemaksaan mendengarkan musik berjam-jam bertujuan merusak mental. Saat musik diputar, tahanan mulai ketakutan, bingung, sembari menerka-nerka akan seperti apa penyiksaan selanjutnya.
“Hukuman ini sangat berbahaya. Tahanan akan hancur secara psikis, mengacaukan perasaan, dan akhirnya putus asa,” kata Daniel Levitin, profesor ilmu saraf Kanada, dikutip dari jurnal McGill University Montreal.
Dalam jurnal itu juga dijelaskan, penyiksaan lewat musik memaksa otak terus menerus memproses pola nada. Dalam ilmu saraf, gejala ini disebut “sensory overload”. Itu artinya, musik jenis apapun bisa digunakan menyakiti narapidana. Misalnya orang yang tidak menyukai dangdut koplo, jika dipaksa mendengarkannya berjam-jam bisa frustasi.

Teror musik di penjara Guantanamo ternyata bukan satu-satunya. Kamp penahanan yang menerapkan metode serupa di antaranya di Israel, Yunani, Korea Selatan, dan Selandia Baru. Lagu yang digunakan beragam, mulai genre pop, rock heavy metal, hingga lagu anak-anak.
Penggunaan musik sebagai alat penyiksaan bahkan sudah berlangsung sejak era lampau. Selain merusak mental, metode ini bertujuan merendahkan martabat tahanan. Salah satunya di kamp konsentrasi NAZI Auschwitz-Birkenau, musisi Yahudi dipaksa memainkan karya Franz Schubert dan Sebastian Bach.
“Itu sangat menjengkelkan bagi saya. Musik kami seharusnya membuat orang senang,” kata Chad Smith, drummer RHCP saat diwawancarai TMZ.
Pernyataan Chad Smith juga tak sepenuhnya salah. Faktanya lagu itu membuat tentara Amerika gembira selama penyiksaan.
Californication dirilis pada Juni 1999, enam bulan sebelum abad 20 berakhir. Judul diambil dari neologisme atau gabungan dua kata. “California”, sebuah negara bagian di Amerika dan “Fornication” artinya pencabulan atau perzinahan. Liriknya menggambarkan eksploitasi, obsesi semu Hollywood, dan mimpi hidup sejahtera di negeri Paman Sam.

Band RHCP digawangi Anthony Kiedis pada vokal; Flea, bass; John Frusciante, gitar; dan Chad Smith, drum. Mereka mengaransemen lagu itu dengan tempo lambat, tak seperti umumnya genre funk.
Jika didengarkan berulang-ulang, Californication seperti “memabukkan”. Para ahli psikologi sepakat bahwa musik dapat menstimulasi otak. Berkaca dari peristiwa Abu Ghraib dan Guantanamo, lagu ini bisa saja mendorong perilaku agresif di penjara. Atau sebaliknya, lagu membuat tentara merelaksasi ketegangan, karena menyiksa juga butuh keberanian.
Sepertinya memang tak ada yang indah di penjara. Californication, tembang berlirik puitis dengan nada ritmis bisa berubah mengerikan. Lebih jauh, bahkan benda selembut kapas sekalipun dapat berbahaya jika diniatkan membuat seseorang menderita. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post