RAMBUT lelaki itu masih basah oleh air wudhu. Lepas Asar, Muchamad Taufik Davit berjalan tergopoh-gopoh menuju kuburan di timur Jalan Dhoho Kota Kediri. Sesampainya di depan makam, dia segera membuka gerbang bertuliskan “Makam Keramat Gunung Sari”. Hari itu kalender Jawa menunjuk Kamis Legi, 5 Maret 2026, waktu di mana banyak rombongan peziarah berdatangan.
Begitu pintu berhias gunungan wayang terbuka, tampak lorong sepanjang 20 meter. Lebarnya seukuran bentangan tangan orang dewasa. Aroma dupa sesekali tercium tipis. Bau makin menguat ketika sampai ke sebuah lahan seluas 20 meter persegi. Ada empat makam di ujung gang itu: Raden Gunung Sari atau Ponco Legowo, Syafi’i Sulaiman, Ali Muntaha, dan Siti Roh Khasanah.
“Sebelum ziarah ke Syekh Wasil Setono Gedong, orang-orang biasanya kesini dulu,” kata Davit, Juru kunci Makam Gunung Sari.
Pria 49 tahun itu menjelaskan, kebiasaan berkunjung ke Gunung Sari sebelum ke Syekh Wasil adalah tradisi KH Hamim Thohari Djazuli atau Gus Miek. Davit mendengar kisah ini dari ayahnya, juru kunci makam sebelumnya. Saat masih duduk di bangku SD, Davit bahkan menyaksikan sendiri ulama asal Pondok Pesantren Ploso itu kerap berdzikir di pusara tersebut.

Bagi warga sekitar, sejak dulu kuburan di komplek Pasar Panjonan Kelurahan Jagalan ini dianggap keramat. Niewsbald, koran Belanda menyebut, pada 1923 makam Gunung Sari tiap hari dibanjiri peziarah. Pada 2007, makam tersebut pertama kali dipugar oleh PT Gudang Garam Tbk. Lantai yang sebelumnya tanah lalu dipasang keramik. Sedangkan cungkup kuburan diambil dari pengrajin asal Mojokerto.
Davit menerangkan siapa sebenarnya Raden Gunung Sari sambil menunjuk papan silsilah di tembok makam. Menurut tulisan tersebut, Gunungsari atau Ponco Legowo merupakan adik Dewi Sekartaji. Sosok Gunung Sari berkelindan dalam kisah besar cerita panji. Keterangan ini diambil dari buku Serat Babad Kediri terbitan Boekhandel Tan Khoen Swie.
“Di makam ini dulu Tan Khoen Swie sering bertapa,” ujar Davit.
Makam Gunung Sari letaknya tepat di belakang rumah Khoen Swie. Hingga kini gua pertapaan itu masih dipertahankan. Posisinya berjarak 1,5 meter dari pusara. Bentuknya berupa tembok bertuliskan huruf Cina, di bawahnya ada pintu kecil dipenuhi hio.

Dari penelusuran Kediripedia.com, tak banyak sumber tertulis yang mendedahkan Raden Gunung Sari. Pada buku Serat Babad Kediri, kiprahnya diceritakan tapi minim. Dalam kajian akademis, Serat Babat Kediri bahkan tidak bisa dijadikan rujukan. Karya ini memuat pandangan kosmologis masyarakat Jawa. Ada unsur legenda, tokoh sakti, ramalan, atau peristiwa supranatural yang sulit dibuktikan secara ilmiah.
Versi lain dari Gunung Sari atau Ponco Legowo diterangkan oleh drg, J Sutjahjo Gani, cicit Tan Khoen Swie. Beberapa tahun belakangan, Gani melacak jejak trah keturunan mereka hingga ke Yogyakarta. Menurutnya, Ponco Legowo dan dua tokoh lainnya merupakan pelarian laskar Pangeran Diponegoro setelah pecahnya Perang Jawa.
“Masih ada yang menyimpan jubah dan panah peninggalan tokoh tersebut,” kata Gani.
Dia menjelaskan, salah satu keturunannya yaitu pemilik Hotel Kilisuci di Yogyakarta. Namun sayang, hotel di dekat terminal lama Jogja itu sudah dirobohkan. Dari penelusuran itu, Gani yakin sosok yang dimakamkan di Gunung Sari tak ada kaitannya dengan cerita panji.

Perbedaan kisah tak membuat makam Gunung Sari kehilangan “keramat”. Meski kisahnya bervariasi, peziarah masih terus berkunjung. Orang-orang masih datang membawa doa di antara empat pusara di timur Jalan Dhoho itu.
Siapa sebenarnya Raden Gunung Sari, apakah tokoh cerita panji seperti disebut dalam Serat Babad Kediri, atau pelarian laskar Diponegoro setelah pecahnya Perang Jawa. Keduanya masih menyisakan tanda tanya. Makam di belakang deretan ruko tua Pasar Panjonan tersebut belum selesai dibaca, menunggu penelitian mendalam dari para sejarawan dan akademisi. (Kholisul Fatikhin)





Discussion about this post