• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Thursday, 26 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

29 Jan 2026
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
0
Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Tugu Pancasila di Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. (Foto: Dimas)

PILAR beton bertuliskan “Pancasila” dan “UUD 1945” masih marak dijumpai di pagar rumah warga Kabupaten Kediri. Cat warna putih telah memudar. Jelaga dan lumut menutup sebagian permukaannya yang retak dimakan usia. Di tengah lanskap desa yang terus berubah, monumen tersebut kini diabaikan. Tugu hanya dianggap hiasan pagar, sekadar ornamen jadul yang belum dibongkar.

Siapa sangka, prasasti di rumah warga itu menyimpan memori kelam situasi politik pasca-1965. Tugu ini hadir ketika negara berupaya menata ulang kehidupan sosial. Pada era itu, pemerintah merasa perlu “memagari” ideologi rakyatnya hingga ke rumah-rumah.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

Laksamana Laut Makassar yang Terasing di Pegunungan Malang

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

“Awalnya, pagar dengan tugu Pancasila hanya dipasang di rumah para terduga afiliator dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI),” kata Dhany T. Saputra, sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Senin, 26 Januari 2026.

Dhany meneliti pagar bertuliskan Pancasila itu dalam skripsinya berjudul “Pemberantasan PKI di Kediri (1966-1968) pada 2021. Pria kelahiran Kediri ini tertarik meriset tugu tersebut karena hanya dijumpai di kawasan eks-Karesidenan Kediri seperti Tulungagung, Blitar, hingga Jombang.

Lelaki yang kini berprofesi sebagai guru sejarah SMAN 1 Gresik itu menyebut, pendirian tugu berakar dari gejolak konflik agraria yang diinisiasi PKI. Puncaknya pada 13 Januari 1965, massa Barisan Tani Indonesia dan Pemuda Rakyat menyerbu Pondok Pesantren Al-Jauhar, Kanigoro, Kediri. Peristiwa ini terjadi sembilan bulan sebelum gerakan 30 September 1965.

Tragedi tersebut kerap dibaca sebagai awal polarisasi ideologi di masyarakat. Ketika ruang sosial dipenuhi slogan politik dan mobilisasi massa, benturan tak terhindarkan. Mereka yang terlibat PKI ditangkap dan dihilangkan.

“Pembersihan PKI di Kediri terjadi antara 1966 hingga 1968. Di saat yang sama, seluruh masyarakat diwajibkan membangun pagar bertuliskan Pancasila dan UUD 1945,” ujar Dhany.

Pada era itu, banyak masyarakat yang sebenarnya sama sekali tak ikut gerakan PKI tapi mengalami kekerasan akibat dituduh serta difitnah. Dengan mendirikan tugu di depan rumah, maka warga terhindar dari penangkapan. Fungsi ornamen Pancasila adalah kebalikan dari tanda silang merah. Simbol ini digunakan untuk menandai rumah yang penghuninya akan menjadi target pembersihan.

Monumen diisi simbol-simbol seperti Keluarga Berencana dan logo Jawa TImur. (Foto: Dimas)

Versi pertama tugu hanya bertuliskan Pancasila dan UUD 1945. Memasuki tahun 1970-an, visualnya ditambah logo Jawa Timur, nama desa, dan simbol Keluarga Berencana (KB) Orde Baru di bagian kiri. Sedangkan di bagian kanan terdapat lambang Kabupaten atau Kota Kediri disertai nama kecamatan dan logo Pramuka.

“Saat itu Presiden Soeharto mungkin tak berani berkunjung ke Kediri, jadi propaganda kekuasaan dilakukan melalui simbol-simbol. Ini asumsi pribadi saya saja,” kata Dhany.

Salah satu desa yang serentak mendirikan tugu Pancasila yaitu di Desa Sumberjo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Menurut kesaksian warga, proyek ini merupakan perintah dari militer sebagai tanda pemilik rumah bukan bagian dari anggota PKI.

“Tulisan UUD 1945 dan Pancasila itu tempelan, harus beli ke tentara,” kata Siti Tamikani, salah satu warga.

Perempuan 76 tahun itu menambahkan, ornamen amat laris. Mayoritas warga membeli lantaran takut dicap PKI. Saat itu, kondisi ekonomi masyarakat masih di level menengah ke bawah. Beberapa warga yang belum mampu membeli akan bersembunyi di rumah-rumah yang sudah terpasang tugu. 

Rumah milik orang tua Siti sudah terpasang monumen. Setiap malam, banyak tetangga terutama laki-laki datang untuk bersembunyi. Mereka berkumpul di ruang tamu, duduk diam sambil mendengarkan berita dari radio. Saat berlindung, mereka kerap mendengar teriakan warga yang tertangkap atau meregang nyawa ketika malam hari.

Lebih dari 60 tahun peristiwa 1965 berlalu, tugu-tugu itu masih bertahan di pelosok desa Kabupaten Kediri. Meski sudah berlumut dan terabaikan, monumen belum hilang dari pagar rumah warga. Sedangkan di wilayah Kota Kediri, tugu Pancasila kian langka. Pilar beton diruntuhkan, berganti model pagar modern tanpa simbol-simbol Orde Baru. (Kholisul Fatikhin, Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

Next Post

Haul ke-77 Tan Malaka di Kediri Digelar Lebih Awal

Next Post
Haul ke-77 Tan Malaka di Kediri Digelar Lebih Awal

Haul ke-77 Tan Malaka di Kediri Digelar Lebih Awal

Dari Fujian Cina, Suku Hokkian Bertahan di Kediri

Dari Fujian Cina, Suku Hokkian Bertahan di Kediri

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA