• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 18 January 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Kisah Satu-satunya Perajin Emas Tradisional yang Bertahan di Kota Kediri

03 Sep 2024
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
0
Kisah Satu-satunya Perajin Emas Tradisional yang Bertahan di Kota Kediri

Min Erfan, perajin emas di Kelurahan Kemasan Kota Kediri. (Foto: Dimas/Kediripedia)

MEJA kerja milik Min Erfan tampak berdebu. Alat-alat seperti gunting, tang, kuas, timbangan, dan palu kecil, seluruhnya berkarat. Perajin emas tradisional ini bahkan sudah tak ingat kapan terakhir kali menerima pesanan.

Menempati rumah di gang kecil, kakek 70 tahun itu adalah satu-satunya perajin emas yang tersisa di Kelurahan Kemasan, Kota Kediri. Puluhan rekannya sudah lebih dulu menyerah, meninggalkan pekerjaan mengolah emas. Sebagian dari mereka pindah domisili, tapi banyak yang sudah meninggal tanpa ada keluarga yang meneruskan keahlian itu.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Yayasan Tifa: Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah Pelanggaran HAM Struktural

Di Munjungan Trenggalek, Undangan Nikah Dipajang di Jalan dengan Banner Mirip Caleg

Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

“Dulu perajin emas memang banyak dan tersebar di kawasan Kemasan,” kata Min Erfan, Rabu, 28 Agustus 2024.

Min mengawali karirnya pada tahun 1966. Ilmu mengolah logam mulia itu dipelajari dari tempat kelahirannya di Rembang, Jawa Tengah. Bersama saudaranya, dia memutuskan pindah ke Kediri karena pasar emas di Kemasan lebih ramai dari pada Rembang.

Menurutnya, tahun 1960an hingga menjelang 2000 adalah masa kejayaan perajin emas di Kemasan. Di era tersebut, mereka tak pernah sepi orderan. Mulai dari pejabat hingga konglomerat, selalu memesan perhiasan di Kemasan. Pelanggannya tersebar mulai dari Kediri, Tulungagung, Blitar, hingga Surabaya.

Situasi mulai berubah ketika toko-toko perhiasan mulai berdiri. Para pengusaha emas memiliki industri pengolahan yang lebih modern untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sehingga, perajin yang menggunakan teknik manual mulai ditinggalkan. Dua belas orang karyawannya juga beralih pekerjaan, karena bekerja sebagai perajin dianggap sudah tidak menguntungkan.

Min kini bertahan hidup dengan memulung botol bekas dari Hotel Grand Surya, Jalan Dhoho Kota Kediri. Sehari-hari, botol-botol itu ditumpuk di ruang kerjanya, bersanding dengan perkakas mengolah emas.

“Sudah lama saya tidak menerima pesanan, terakhir kali mungkin setahun atau dua tahun lalu,” kata Min.

Meski sudah di usia senja, Min tidak kehilangan kemampuan mengolah emas. Dia bahkan masih hafal bagaimana menakar nilai karat atau satuan emas untuk perhiasan seperti kalung, gelang, cincin, dan anting.

Min tidak mengetahui sejak kapan Kemasan menjadi pusat pengolahan emas. Sebelum dia datang pada 1966, daerah ini sudah bernama Kemasan. Besar kemungkinan aktivitas pengerjaan emas sudah berlangsung sejak era sebelum kemerdekaan.

Lapak pengepul emas di Kelurahan Kemasan. (Foto: Dimas/Kediripedia)

Menurut kajian toponimi atau asal-usul penamaan daerah, kawasan ini bisa jadi disebut sebagai Kemasan karena saat itu banyak perajin emas. Di dekat Kemasan, terdapat wilayah yang juga identik dengan nama pekerjaan. Antara lain, Jagalan yaitu tempat pemotongan hewan, kemudian Pandean yang terindikasi menjadi lokasi para pandai besi.

“Kemasan sebagai pusat kerajinan emas diperkirakan sudah ada sejak abad ke-11,”  kata Sigit Widiatmoko, Dosen Sejarah Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri.

Saat itu, peran komunitas perajin emas menjadi bagian penting pada masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Hal itu dikuatkan dalam prasasti kuno yang sering menyebutkan juru gosali atau pengrajin logam. Di Kediri juga pernah ditemukan emas ukiran dengan berat 1,2 Kilogram dari zaman raja Airlangga.

Menurut Sigit, pengolahan emas dilakukan turun temurun, hingga menjadi kebudayaan yang mempengaruhi sistem tata kota. Penamaan Kemasan lahir dari kosmologi sosial di masyarakat, yaitu tempat tinggal perajin emas. Wilayah dengan imbuhan –an ini mulai banyak bermunculan pada era kesultanan atau Mataram Islam.

Meski kini hanya tersisa satu perajin saja, Kemasan tak kehilangan kilau emas. Kawasan itu masih identik sebagai pusat jual-beli emas. Baik itu dari toko-toko maupun lapak pengepul di sepanjang trotoar Jalan Sriwijaya, Jalan Patiunus, dan Jalan Joyoboyo di Kelurahan Kemasan. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#kawasan#people
Previous Post

Peringati Hari Hiu Paus Internasional, Anggota Dewan Pers Lepas Penyelam Gorontalo Bersihkan Sampah Laut

Next Post

Seluruh Timbangan Pedagang Pasar Tradisional Kota Kediri Dicek Ulang

Next Post
Seluruh Timbangan Pedagang Pasar Tradisional Kota Kediri Dicek Ulang

Seluruh Timbangan Pedagang Pasar Tradisional Kota Kediri Dicek Ulang

Pembantaian Lutung Jawa di Gunung Wilis Semakin Meruyak

Pembantaian Lutung Jawa di Gunung Wilis Semakin Meruyak

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (110)
  • DESTINASI (112)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (223)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA