EMPAT penari beradu pedang sambil diiringi irama rancak gamelan. Layaknya di medan pertempuran, mereka maju-mundur saling menangkis serangan. Mung dhe, tari perang asal Kabupaten Nganjuk ini memiliki kisah historis yang panjang. Koreografinya menggambarkan perjuangan Pangeran Diponegoro ketika melawan Belanda.
Menurut cerita tutur masyarakat Nganjuk, kesenian ini lahir usai Diponegoro kalah pada Perang Jawa tahun 1925-1930. Pahlawan bernama asli Raden Mas Ontowiryo itu lalu diasingkan ke Makassar. Sedangkan para pengikutnya banyak yang lari ke Jawa Timur, salah satunya di Desa Garu, Kecamatan Baron, Nganjuk. Dikejar Belanda, sebagian prajurit menciptakan tari mung dhe yang bertemakan perang.
“Para pasukan Diponegoro itu menyamar jadi pengamen sembari terus menyusun kekuatan,” kata Amin Fuadi, Kabid Kebudayaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Rabu, 7 Mei 2025.
Menurut Amin, adegan perang tari mung dhe adalah sandi rahasia untuk menghimpun prajurit Diponegoro yang tercerai-berai ke berbagai daerah. Lewat kesenian itu Belanda berhasil dikelabui. Saat pertunjukan mung dhe, prajurit menggunakan topeng sambil memainkan gerakan-gerakan lucu.
Istilah mung dhe diambil dari paduan bunyi dua alat musik tradisional. “Mung” berasal dari penitir, salah satu piranti gamelan yang disusun berderet. Saat dipukul instrumen itu menghasilkan suara “mung”. Sedangkan “Dhe” berasal dari bendhe, alat musik seperti gong tapi ukurannya kecil.
Tidak ada kata-kata yang digunakan berdialog. Gerakan tubuh mutlak menjadi sandaran utama untuk menyampaikan pesan.
“Tari mung dhe termasuk jenis tari bersifat nonverbal. Ekspresi wajah para penari harus ceria, riang, dan semangat,” kata Novi Anjarsari, guru kesenian SMKN 2 Nganjuk.
Pada atraksi panggung, seluruh penari laki-laki maupun perempuan menggunakan rias peran dengan memunculkan karakter gagah. Alur tarian dibagi menjadi empat yaitu kirapan, jalan berpedang, tangkisan pedang, dan perangan.
Kesenian ini dimainkan oleh 14 orang. Dua penari pedang, penari topeng tembem dan penthul, dua pembawa umbul-umbul, dan delapan penabuh atau pengrawit. Untuk pemain musik, properti pedang diselipkan di perut.
Tari mung dhe bertemakan kepahlawanan, cinta tanah air, dan patriotisme. Sehingga, gerakan tari diambil dari bela diri silat. Pada dasarnya, cerita tari itu menggambarkan prajurit yang sedang berlatih perang.
“Pada mulanya busana penari yaitu penutup kepala irah-irahan, sekarang diganti udeng dengan bulu ayam pada bagian tengah,” ujar lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.
Busana yang dipakai para penari harus semarak agar menarik penonton. Ciri menonjol pada pertunjukan tari ini terdapat pada musiknya yang terdengar monoton. Namun, jika diperhatikan sebenarnya terbagi menjadi irama cepat dan lambat.
Sayangnya, bagi masyarakat Nganjuk, mung dhe tak begitu populer. Usai kemerdekaan, seni tari ini bahkan terlupakan, kalah populer dengan pementasan wayang, tayub dan jaranan.
Beberapa tahun terakhir, sejumlah sekolah kini mulai memasukkan tari mung dhe pada pelajaran ekstrakurikuler. Di Desa Ngetos, Nganjuk, kesenian itu masih terus dilestarikan, misalnya pada perayaan malam suro. Mung dhe kini juga kerap dipentaskan dalam acara resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nganjuk.
“Mung dhe perlu dilestarikan karena merupakan salah satu kekayaan budaya Nganjuk,” kata Amin.
Tari mung dhe bukan sekadar hiburan. Di baliknya terdapat kisah pantang menyerah dan cinta tanah air. Melestarikan kesenian ini sama halnya dengan merawat perjuangan Pangeran Diponegoro. (Safana Nur Rahma Zakiyya, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post