SEBUAH rumah tua di Jalan MH Thamrin Kota Kediri itu bukan bangunan kolonial biasa. Hunian bergaya art deco ini pernah disinggahi Jenderal Sudirman ketika Agresi Militer Belanda 2 pada 1948. Di rumah inilah Sudirman mulai mematangkan siasat perang gerilya ke Gunung Wilis.
Selama puluhan tahun rumah bercat putih tersebut tak berpenghuni. Saat Kediripedia.com berkunjung pada Rabu, 6 Agustus 2025, gedung tampak sedang direnovasi. Dalam waktu dekat persinggahan Sudirman di Kelurahan Kemasan, Kediri itu akan dijadikan cafe.
“Di rumah tua itu, Jenderal Sudirman singgah semalam,” kata Achmad Zainal Facris, Guru Sejarah Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Kediri.
Dia menjelaskan, usai Indonesia merdeka seluruh bangunan peninggalan Belanda diambil alih Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Termasuk, hunian di Kelurahan Kemasan. Sehingga, dalam perjalanan mempertahankan kedaulatan negara, Sudirman menetap semalam di rumah tersebut sebelum melanjutkan pemberontakan.
Kala itu, panglima besar menempati sebuah kamar berukuran 4×4 meter. Dia dikawal ketat empat perwira. Sedangkan anggota TKR lainnya berjaga di sekeliling kawasan.

Pada awalnya, kedatangan Sudirman di Kediri tak berjalan mulus. Dia dihadang Laskar Hizbullah di Trenggalek. Mereka bahkan berencana membunuh Sudirman. Tentara dari kalangan pemuda Islam itu tak mengetahui jika yang ditahan adalah panglima besar.
Kabar tertangkapnya Sudirman sampai ke telinga Kolonel Soerachmad. Pimpinan Brigade II komando Divisi I Brawijaya itu segera menjemput Sudirman, serta diantar ke Kediri mengendarai mobil Jeep.
“Dalam perjalanan ke Kediri itu kondisi Pak Dirman sudah sakit, tapi menolak ditandu,” ujar Facris.
Soerahmad awalnya hendak membawa Sudirman ke rumahnya yang terletak di selatan Gereja Merah Kediri. Akan tetapi, demi menghindari kecurigaan Belanda, Sudirman disembunyikan di Kelurahan Kemasan.
Tersebab hanya tinggal semalam, tak ada jejak berupa benda fisik milik Sudirman di rumah Kemasan. Namun, spirit gerilya itu terus dihidupkan warga Kediri lewat event tahunan Kediri-Bajulan. Rumah tersebut dijadikan patokan start dimulainya napak tilas gerilya menembus hutan Gunung Wilis hingga ke daerah Nganjuk.
“Rumah ini akan dijadikan sebuah cafe, saat ini masih proses renovasi,” kata Dino Frizar Aprilian, salah satu karyawan Kuvy Cafe.
Menurutnya, bangunan kolonial itu beberapa kali dibidik para pengusaha untuk dijadikan cafe. Ornamen vintage masih menempel di sudut-sudut rumah berhalaman luas ini. Dinding bagian luar dilapisi bebatuan kecil dan penambahan mozaik kaca berwarna pada daun jendela. Sedangkan pintunya dibuat lebih lebar khas tempat tinggal Eropa.

Tempat itu amat cocok dijadikan lokasi nongkrong yang digandrungi anak muda. Namun, para pengusaha tak ada yang sukses meyakinkan pemilik, yaitu orang keturunan Tionghoa yang tinggal di Bandung.
Dino menjelaskan, pengusaha cafe sekarang berhasil mengantongi izin sebab memiliki kesamaan profesi di bidang kesehatan. Rumah itu disewa untuk beberapa tahun ke depan.
“Proses renovasi juga dilarang mengubah bentuk bangunan,” jelasnya.
Bangunan utamanya tetap utuh. Termasuk semua pohon di halaman depan maupun belakang dilarang ditebang. Penambahan bidang hanya boleh dilakukan di sayap kiri rumah sebagai tempat duduk outdoor. Sedangkan di dalam hanya ditambah pendingin ruangan, meja kasir, dan kursi pengunjung.
Arsitektur rumah berusia lebih dari seabad itu tak akan diubah, walaupun dalam waktu dekat akan dijadikan cafe. Sang pemilik masih mempertahankan keaslian bangunan, meskipun belum ada penetapan sebagai cagar budaya. (Dimas Eka WIjaya)







Discussion about this post