• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Saturday, 2 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Tukang Putu Ingin Naik Haji

16 Nov 2017
in PEOPLE
Reading Time: 2 mins read

Suara melengking terdengar ketika seorang lelaki menyusuri jalanan. Dengan sepeda ontel, dia membonceng obrok, tempat menaruh perlengkapan adonan, ketel, bejana, dan kompos gas. Uap yang mengepul dari lubang bejana itulah yang menghasilkan lengkingan suara seperti seruling.

Setiap hari, suara itu terdengar menyusuri jalanan, mulai dari jalan raya hingga gang sempit di Kota Kediri. Bunyi nyaring mirip seruling atau peluit itu, adalah alat penarik minat pembeli seperti halnya bell yang digunakan pedagang es krim. Makruf, begitulah pedagang kue putu asal Brebes, Jawa Tengah itu biasa disapa. Lelaki berumur 68 tahun itu menjajakan kue dengan cara langsung memasak di tempat. Istilah kerennya barangkali fresh from the oven.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

“Awal berjualan dulu, saya tidak langsung pakai sepeda pancal, tapi jalan kaki, obrok-nya saya pikul,” kata Makruf dengan logat Banyumasan, Selasa, 14 November 2017.

Ayah sepuluh anak itu menjajakan kue berbahan baku tepung beras sejak tahun 1980 tanpa pernah sekalipun berganti profesi. Sebelum akhirnya berdagang di Kediri, beberapa kota di Indonesia sudah pernah dia jelajahi untuk berdagang putu. Bandung, Sukabumi, Cianjur hingga kota-kota di luar Pulau Jawa seperti Makassar dan Palopo, Sulawesi Selatan; Lombok, Nusa Tenggara barat; dan Riau, adalah beberapa tempat yang pernah dia rantaui.

Ia berjualan putu mengendarai sepeda tua. (Foto: Dwidjo U. Maksum)

Memilih Kediri sebagai tempat berdagang bukan tanpa sebab. Semasa masih muda ia pernah belajar di Pondok Pesantren Lirboyo pada 1965. “Saya berjualan di Kediri sejak Gus Dur jadi presiden,” kata Makruf, saat melayani pembeli di kawasan Jalan Penanggungan, Kediri.

Meskipun berdagang di Kediri, istri Makruf dan anak-anaknya tetap tinggal di Brebes. Dua bulan sekali dia pulang untuk menengok anak istrinya. Tapi salah seorang putrinya ada yang pernah mondok di Lirboyo. Sayangnya, setelah lulus dan kembali ke Brebes, meninggal. Kini, dari sepuluh anaknya, hanya tiga orang yang masih hidup.

Makruf mulai berkeliling menjajakan putu sejak siang sampai isya. Pendapatan yang dia peroleh per hari rata-rata Rp 50 ribu. Jumlah itu cukup untuk menafkahi keluarga. Sebagian penghasilan disisihkan untuk membangun madrasah di Brebes.

Di Kediri, Makruf tinggal di kos-kosan kawasan Pasar Campurejo dekat Pondok Pesantren Lirboyo. Sendirian, tidak ada keluarga yang menemani. Jika tidak pulang ke Brebes, waktu liburnya dia gunakan untuk berkunjung ke Pasar Loak Kaliombo. “Itu hiburan yang saya gemari,” kata Makruf.

Ada satu harapan yang dia inginkan dan hingga kini belum tertunaikan, yaitu pergi ke tanah suci. Tiap kali melihat rombongan orang berangkat haji, dia menangis.

“Saya selalu memohon kepada Allah, agar cita-cita saya pergi haji, dikabulkan,” kata Makruf dengan mata berkaca-kaca. “Jika toh tetap tidak bisa pergi ke tanah suci hingga akhir hayat, saya tidak kecewa, yang penting  masih bisa beribadah, bekerja, dan bermanfaat buat sesama.” (Kholisul Fatikhin)

Nomor telepon Pak Makruf: 081809556046

Tags: people
Previous Post

Rumah Ungu Tempat Singgah Jurnalis Kediri

Next Post

Di Solo, 20 Media Online Indonesia Deklarasikan HUMAN

Next Post

Di Solo, 20 Media Online Indonesia Deklarasikan HUMAN

Seniman Muda Melukis Di Jalanan

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA