WARGA Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri memblokade gerbang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Klotok sejak Kamis, 2 April 2026. Akibatnya, penimbunan sampah berhenti selama lima hari. Tiga alat berat berjejer rapi di garasi, sedangkan puluhan truk pengangkut yang biasanya hilir-mudik tak terlihat.
Sejak TPA berhenti beroperasi, sampah di seluruh Kota Kediri tak terangkut. Kantong plastik berisi sisa makanan dan sampah organik menumpuk di pasar tradisional, depan rumah, gang sempit, hingga tepi jalan.
Aksi blokade itu melibatkan puluhan warga dari RW 02, RW 03, dan RW 05, yang terdampak langsung keberadaan TPA. Penutupan akses dilakukan sebagai bentuk protes damai. Warga menuntut pencairan kompensasi yang dijanjikan Pemerintah Kota Kediri sebesar 2 juta rupiah per tahun untuk setiap Kepala Keluarga (KK).
“Selama belum ada kepastian pencairan, kami akan tetap memblokade truk-truk sampah di sini,” ujar Jangkung, salah satu warga RW 05, saat ditemui Kediripedia.com, Senin, 6 April 2026.
Dia menjelaskan, penerima kompensasi mencapai sekitar 1.400 kepala keluarga. Mereka sehari-hari hidup dekat dengan tumpukan sampah yang menimbulkan bau menyengat. Selama bertahun-tahun, kompensasi biasanya dibagikan pada bulan puasa dengan nilai satu juta rupiah. Pada tahun ini mereka dijanjikan naik menjadi dua juta rupiah per kepala keluarga. Namun hingga kini belum juga cair.
“Nominal dua juta itu janji politik Wali Kota Vinanda saat kampanye, tapi hingga kini warga belum merasakan manfaatnya,” kata Jangkung.
Menurutnya, kompensasi itu tak sebanding dengan risiko kesehatan dan kenyamanan yang hilang akibat TPA. Warga menghadapi bau menyengat hingga banyaknya serangga lalat.
Ayah dua anak ini menambahkan, sebelum diblokade lebih dari 80 truk membuang sampah setiap hari di TPA. Kini, hanya sekitar 10 truk yang bisa masuk sebelum warga berjaga. Salah satu tujuan blokade ini menekan jumlah pembuangan sampah yang melebihi kapasitas.

Selama bertahun-tahun, warga yang tinggal di dekat TPA, terutama RW 02, RW 03, dan RW 05, sudah terbiasa hidup berdampingan dengan sampah. Batas antara hunian dan tumpukan limbah hanya sekitar 100 meter. Akibatnya, banyak warga mengalami gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan, penyakit kulit, hingga dampak mental.
“Saat musim hujan seperti ini, bau sampah semakin menyengat,” ujar Imam Sofi’i, salah satu warga.
Air lindi dari tumpukan sampah mulai meresap ke sumur warga. Air jadi keruh dan berlendir, bahkan menyebabkan gatal-gatal saat digunakan mandi. Kondisi itulah yang memicu puluhan warga menggelar aksi damai di depan gerbang TPA.
Mereka menuntut janji kesejahteraan dan kenyamanan hidup yang selama ini dijanjikan Wali Kota. Para demonstran menegaskan akan tetap menutup akses pembuangan sampai kompensasi dicairkan.
Kediripedia.com berupaya mendatangi Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan Kota Kediri (DLHKP) Kota Kediri untuk memperoleh tanggapan terkait aksi blokade ini. Namun, salah satu petugas menyebut kepala dinas sedang rapat di balai kota.
TPA Klotok beroperasi sejak 1992. Pada 2025, rata-rata timbunan mencapai 173 ton per hari. Setiap tahunnya, tumpukan sampah terus meningkat hingga setinggi 20 meter. Dari pantauan Kediripedia.com, tembok sisi barat jebol sehingga air lindi mengalir ke sungai. Pemkot Kediri sebelumnya merencanakan perluasan TPA seluas 6 hektare di sisi barat, sebab area itu sudah tak mampu menampung kapasitas sampah. (Dimas Eka Wijaya)






Discussion about this post