• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Wednesday, 22 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Masjid Bayem Berdiri di Atas Pabrik Tua Belanda

20 Feb 2025
in DESTINASI
Reading Time: 3 mins read
Masjid Bayem Berdiri di Atas Pabrik Tua Belanda

Masjid Bayem di Dusun Karangdinoyo, Kepung, Kabupaten Kediri. (Foto: Fatikhin)

SHALAWAT terdengar ketika Sulthoni duduk di mimbar imam. Ketua takmir Masjid Bayem, Karangdinoyo, Kabupaten Kediri itu baru saja selesai shalat ashar. Sambil menunjuk lantai, dia mengatakan di bawah tempat duduknya terdapat bunker peninggalan Belanda.

“Masjid ini dulunya pabrik agave atau serat nanas,” ujar pria 67 tahun itu, Rabu, 19 Februari 2025.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Gunung Sari, Makam di Antara Kisah Laskar Diponegoro dan Sekartaji

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

Dari kisah yang dituturkan para pendahulunya, pabrik itu tak lagi beroperasi ketika Indonesia merdeka. Bangunan utama dirobohkan, besi-besi dijarah, batu bata dicongkel untuk dijadikan pondasi rumah warga.

Kala itu warga Karangdinoyo sudah lama memendam amarah pada pabrik. Penyebabnya, limbah pembuangan mencemari sumber air. Tak sedikit masyarakat yang mengalami penyakit gatal-gatal.

Usai dihancurkan penduduk, sisa konstruksi yang masih tersisa di antaranya bunker, pipa saluran air sepanjang 20 meter, struktur pondasi, dan selasar cerobong asap. Beberapa tahun lalu, warga masih menemukan besi rel kereta uap yang terpendam di tanah sekitar Masjid Bayem.

Lubang pintu masuk ke bunker Masjid Bayem. (Foto: Fatikhin)

Selama puluhan tahun, reruntuhan pabrik serat nanas itu dibiarkan terbengkalai. Masyarakat Dusun Karangdinoyo tak ada yang berani mendekat. Bekas pabrik yang tertutup pepohonan dianggap angker. Sedangkan bunker jadi sarang ular weling, piton, dan burung walet.

“Pada 1984, bekas pabrik ini dibangun masjid. Idenya berawal dari ayah saya, Kiai Khamim,” kata Sulthoni.

Lebih jauh, lulusan Pondok Pesantren Kapurejo Pagu ini menjelaskan, status tanah masjid merupakan wakaf dari Mbah Samdat. Dia adalah modin atau perangkat desa di bidang keagamaan di Karangdinoyo pada 1980-an. KH Hamim Tohari Djazuli atau Gus Miek dari Pondok Pesantren Ploso juga andil dalam pendirian Masjid Bayem.

Proses pembangunan dikerjakan dengan pembuatan dinding baru di atas pondasi bekas pabrik. Luas dan lebarnya dicocokkan dengan struktur lama. Jika ada yang berbeda yaitu sudut konstruksi yang dibuat agak miring agar menghadap kiblat.

Desain bangunan masjid awalnya mengusung konsep joglo. Penyangga atap terdiri dari empat pilar kayu. Akibat letusan Gunung Kelud pada 2014, masjid nyaris roboh. Sehingga, bangunan terpaksa dirombak total. Wajah Masjid Bayem kini berkonsep modern.

“Lubang saluran air dan bunker tidak dibongkar, bagi kami itu bersejarah,” kata pria 6 anak itu.

Sulthoni, ketua takmir Masjid Bayem. (Foto: Fatikhin)

Dia masih mengingat peristiwa erupsi Kelud pada 1990. Dahsyatnya letusan membuat kawasan Karangdinoyo dilanda hujan batu. Sulthoni, keluarga, dan sejumlah tetangga sekitar, berlindung di bunker Masjid Bayem.

Didin Saputro, ketua Pelestari Sejarah-Budaya Kadhiri (PASAK), menilai pabrik yang kini dijadikan Masjid Bayem adalah industri besar era Belanda. Bernama Vezelfabriek, industri ini mengolah daun serat nanas menjadi karung goni dan tali kapal yang dikelola perusahaan swasta Belanda, Handels Vereeniging Amsterdam (HVA).

“Hampir di semua area pertanian lereng Kelud dulunya terhampar tanaman agave,” kata Didin. 

Tumbuhan agave merupakan tanaman perdu yang berasal dari Meksiko Tenggara. Tanaman ini masih satu kerabat dengan nanas. Bedanya, daun-daun agave berukuran lebih panjang mirip pedang. Agave tumbuh subur di tanah yang mengandung belerang seperti di lereng Kelud.

Perkebunan agave di Karangdinoyo pada 1910. (Foto: KITLV)

Daun agave diambil seratnya untuk dijadikan kain goni dan tali dengan cara dijemur, disisir, kemudian diikat. Sementara jantung atau buah tanaman bernama latin sisalana itu digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan tequila.

Dari kisah di balik Masjid Bayem itu, Sulthoni kerap diminta mengelola masjid sebagai destinasi wisata sejarah. Namun, usulan itu ditolak.

“Tanah ini diwakafkan hanya untuk masjid dan dibangun pondok pesantren, kalau untuk wisata ya jangan,” kata Sulthoni. 

Beberapa tahun lalu, Sulthoni mendapat informasi bahwa di samping masjid terdapat makam ulama. Kabar itu tak dipercaya begitu saja. Dia hanya fokus mengelola Masjid Bayem sebagai kegiatan ibadah seperti TPQ, pengajian kitab, dan membaca shalawat nariyah. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headline#Kediri#SEJARAH
Previous Post

Gus An’im Pastikan Program Bedah Rumah Amanah

Next Post

Spirit Naar de Republiek Menggema di Makam Tan Malaka

Next Post
Spirit Naar de Republiek Menggema di Makam Tan Malaka

Spirit Naar de Republiek Menggema di Makam Tan Malaka

Mantan Aktivis Mahasiswa Jadi Bos Kerupuk

Mantan Aktivis Mahasiswa Jadi Bos Kerupuk

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA