PADA Selasa malam, 2 September 2025, pihak kepolisian menginformasikan pengembalian sebuah patung yang diambil dari Museum Bagawanta Bari Kabupaten Kediri. Sayangnya, arca tersebut adalah dwarapala atau yang biasa disebut reco pentung. Benda itu juga tak bernilai sejarah karena hanya sekadar souvenir.
Museum yang terletak satu komplek dengan Kantor Bupati Kediri ini tak luput dari perusakan dan penjarahan massa. Sejumlah koleksi benda purbakala hilang. Salah satunya fragmen kepala arca ganesha yang dijadikan logo resmi Pemerintah Kabupaten Kediri.
Sehari usai kerusuhan, Dinas Pariwisata dan Budaya (Disbudpar) Kabupaten Kediri mendata koleksi museum. Dari 154 benda, hanya arca ganesha dan kain wastra, batik khas Kediri yang tidak ditemukan. Sedangkan arca kepala Bodhisatwa dari Candi Adan-adan dan batu bata berinskripsi yang dikabarkan hilang, berhasil diselamatkan juru pelihara museum. Sayangnya, miniatur lumbung dipukul hingga hancur berkeping-keping.
“Sejumlah koleksi yang selamat kini dipindah ke sebuah gedung di kawasan Pamenang,” kata Kepala Dinas Disbudpar Kabupaten Kediri melalui Kabid Sejarah dan Purbakala, Eko Priyanto, Rabu, 3 September 2025.
Eko menjelaskan, arca ganesha yang hilang itu memang sudah tidak utuh, hanya tinggal kepala. Tapi bagaimanapun bentuknya, benda itu bersejarah.
Patung tersebut ditemukan di Desa Sumbercangkring, Gurah, Kabupaten Kediri. Arca setinggi 16 cm, lebar 17 cm, dan tebal 17 cm itu berasal dari abad ke-11. Dari benda tersebut, diketahui bahwa masyarakat Kediri di masa lalu menganut agama Hindu. Benda purbakala itu juga sejaman dengan Situs Tondowongso.

“Itu bukan sekadar benda, tapi warisan peradaban Kediri,” ujar Eko.
Dalam kepercayaan Hindu, ganesha adalah dewa Hindu yang melambangkan pengetahuan. Dia digambarkan berkepala gajah, perut buncit, dan berlengan empat. Kabupaten Kediri menjadikan ganesha sebagai logo pemerintahan.
Bentuk arca ganesha di Museum Bagawanta Bari tersebut hanya seukuran genggaman tangan orang dewasa. Saat terjadinya kerusuhan, patung bisa saja dilempar ketika massa memecah kaca gedung dan etalase museum. Namun, dari penelusuran selama dua hari terakhir, arca tidak ditemukan di antara puing-puing kebakaran.
“Mudah-mudahan arca itu bisa kembali,” ujarnya.
Dia menyayangkan aksi penjarahan dan perusakan benda museum. Menurutnya, situs sejarah dan museum bukan sekadar benda mati. Mereka adalah saksi bisu peradaban yang mengandung nilai pengetahuan, spiritualitas, dan identitas.
Menurut Eko, kerugian materi bisa dihitung. Tapi jika artefak bersejarah lenyap, maka identitas dan sejarah Kediri ikut hilang. Kemungkinan terburuknya, kalau arca ini masuk pasar gelap, maka bisa lenyap selamanya. (Kholisul Fatikhin)






