HALAMAN rumah milik Rudianto di Desa Jarak, Plosoklaten, Kabupaten Kediri menyerupai hutan tropis mini. Pohon-pohon endemik Pulau Jawa yang jarang dijumpai di lingkungan urban, tumbuh subur di kediaman pria 39 tahun itu. Kedawung, gayam, joho, kemiri, winong, gondang, trengguli, jambu mawar, kepayang, kecubung, wuni, sentiet, dan puluhan spesies lainnya memenuhi pekarangan depan hingga belakang rumah.
Hobi merawat tumbuhan sudah dilakoni Diyan, sapaan akrabnya, sejak remaja. Dia hanya bergeming saat banyak orang menganggapnya kurang kerjaan. Sebab, seluruh tanaman yang dipelihara bukan pohon bernilai ekonomis.
“Tanaman lokal mulai dilupakan. Saya rawat agar tidak hilang,” kata pekerja serabutan itu pada Kamis, 16 Juli 2025.
Diyan tak menyangka, keahlian merawat tanaman dari hutan berhasil menyelamatkan populasi pohon leses (Ficus Albipila) di Cagar Alam Manggis Gadungan Alas Simpenan. Pada 2020, pohon purba di lereng Gunung Kelud itu hanya tersisa tiga tegakan. Bagian pangkal salah satu pohon bahkan sudah keropos, kapan saja bisa roboh. Usia tumbuhan itu diperkirakan lebih dari 200 tahun.
Selama bertahun-tahun tak ditemukan bibit yang berhasil tumbuh di sekitarnya. Baik itu dari biji yang jatuh dari pohon maupun yang disebarkan kelelawar. Sehingga, tanaman berjuluk “Ratu Para Ficus” di Alas Simpenan masuk dalam kategori hampir punah.

“Kita meminta tolong pada mas Diyan untuk menyemai biji leses. Sebab, dari berbagai percobaan yang kita lakukan, selalu gagal,” kata Siti Nurlaili, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah 1 Kediri.
Nurlaili menjelaskan, pohon setinggi 30 meter dengan lebar 8 meter ini menjadi salah satu sandaran ekosistem Alas Simpenan. Tanaman itu adalah rumah kelelawar raksasa Pteropus vampyrus, monyet ekor panjang, dan tawon gung. Biji leses di Alas Simpenan sulit berkecambah karena lebatnya pepohonan, sehingga menutup sinar matahari.
Permintaan BKSDA Kediri membuat Diyan merasa tertantang. Pada 2021, lulusan sekolah kejuruan teknik mesin ini memulai penyemaian dengan mengambil biji leses. Ratusan benih seukuran butiran pasir itu dimasukkan ke botol minyak angin berbahan kaca.
Diyan membawa biji-biji itu ke “laboratorium” di rumahnya. Hunian pria berjenggot itu berdinding anyaman bambu. Pondasinya dari kayu, sehingga lebih mirip gubuk. Ayah dan kerabat sebenarnya juga tinggal di Desa Jarak, namun Diyan lebih memilih hidup sendirian di bangunan semi-permanen itu.
Saat proses menyemai leses, dia sudah tak ingat berapa kali percobaannya gagal. Di internet, tak ada informasi spesifik panduan menyemai leses. Penelitian ilmiah pun belum ada.
“Dari eksperimen itu penyebab leses sulit tumbuh akhirnya ketemu, yaitu karena serangan semut dan siput,” ujar lelaki kelahiran Sumatera itu.
Diyan hanya butuh waktu enam bulan hingga biji leses berhasil tumbuh tunas. Selain serangan hama, suhu udara juga berpengaruh. Tumbuhan anakan tak boleh terkena matahari langsung, maupun terlalu lembab.

Saat pohon itu sudah berakar kuat serta berbatang tegak, Diyan mengembalikan tanaman tersebut ke Alas Simpenan. Sejak 2022, Kediri resmi dijadikan Pusat Ficus Nasional (PFN). Sejumlah pohon yang berhasil dibudidayakan Diyan lalu ditanam di Buffer Zone PFN. Letaknya di area tujuh kilometer yang mengelilingi Cagar Alam Manggis.
“Diyan jadi orang pertama di Indonesia yang mampu membiakkan pohon leses dari biji,” kata Nur Laili.
Menurutnya, tak banyak orang yang mau membudidayakan tanaman hutan. Di tengah keterbatasannya, ketekunan mempelajari sifat tanaman perlu diapresiasi.

Hingga kini, Diyan tak berhenti menyemai ficus hingga jumlahnya mencapai ratusan. Tumbuhan hasil penyemaian tersebut lalu disumbangkan ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Bali dan Lombok.
Pada 2022, Diyan diminta mempresentasikan hasil temuannya di forum nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Bali. Kala itu, dia mewakili BKKSDA Jatim. Di kalangan pecinta botani, dia dijuluki “Mbah Leses” karena keberhasilannya menyemai pohon leses. Rumahnya kini kerap dikunjungi siswa hingga mahasiswa yang hendak penelitian.
“Tahun lalu BKSDA Pemalang minta diajari menyemai leses, alhamdulillah sekarang di sana juga sudah tumbuh,” ujarnya.
Diyan mempersilakan siapa saja yang hendak mengambil pohon leses di rumahnya. Dia tidak menarik biaya sepeserpun. Hasil keringatnya didedikasikan untuk pelestarian vegetasi dan ekosistem.
Usai mengembangkan pohon ficus, Diyan bertekad terus melestarikan tanaman lokal. Dia memprioritaskan tumbuhan yang dijadikan nama desa di Kediri. Misalnya Kedawung, Joho, dan Gayam.
“Saya rawat pohon-pohon itu agar masyarakat bisa melihat tanaman yang jadi riwayat nama-nama desa di Kediri,” kata Diyan. (Kholisul Fatikhin)






