• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 10 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Pelukis Digital Internasional yang Menyamar Jadi Petani di Kediri

14 Jan 2025
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
0
Pelukis Digital Internasional yang Menyamar Jadi Petani di Kediri

Ahmad Rifai, ilustrator digital asal Kediri. (Foto: Dimas Eka Wijaya/Kediripedia.com)

WARGA desa mengenal keseharian Ahmad Rifai sebagai seorang petani. Di balik aktivitasnya merawat ladang jagung, cengkeh, dan durian, tak ada yang mengira dia adalah ilustrator digital. Gambar-gambar bergenre surealis miliknya laris dibeli orang Amerika, Meksiko, Kanada, Prancis, Swedia, Jepang, dan Malaysia.

Saban hari, Rifai mengerjakan pesanan grafis dari luar negeri di rumahnya di Dusun Mojoduwur, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Mulai dari cover album musik, marchandise, kaos, dan poster digarap melalui komputer dan tablet. Kamar pribadinya seluas 3×3 meter dijadikan studio untuk editing, upload, serta berkomunikasi dengan klien mancanegara.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Dari Fujian Cina, Suku Hokkian Bertahan di Kediri

“Ke ladang cukup seminggu sekali. Hidup di desa, kalau kelihatan selalu di rumah malah dikira pengangguran,” kata Rifai, Kamis, 9 Januari 2025.

Menurut pria 32 tahun itu, anggapan tersebut wajar, mengingat pekerjaan ilustrator digital belum begitu populer. Warga desa bahkan saudaranya masih menilai bahwa bekerja adalah aktivitas yang mengeluarkan tenaga. Misalnya, petani, pedagang, dan pekerja pabrik. Rifai tidak membantah persepsi tersebut. Dia memilih “menyamar” sebagai petani sembari terus berkarya menekuni industri kreatif.

Karir di bidang desain grafis dimulai ketika dia resign jadi guru menggambar di Global Art Kediri pada 2018. Awalnya, dia memanfaatkan instagram sebagai etalase memajang karya-karyanya.

Aktivitas Ahmad Rifai ketika bekerja di ladang. (Foto: Dok. Pribadi Rifai)

Nama Rifai sebagai ilustrator semakin melambung ketika karyanya diunggah di Fiverr.com. Di situs marketplace desain grafis internasional itu, dia melayani order logo band, costum font, kaos dan pernak-pernik, serta poster album untuk spotify dan youtube. Sebagian besar gambarnya bertemakan lingkungan, alam, dan eksplorasi tubuh manusia.

“Pertama kali gambar saya laku dihargai 300 ribu rupiah,” ujar mantan Bassist band Brotherhood itu.

Kini, dalam sebulan dia mengerjakan 3 hingga 5 pesanan. Satu gambar rata-rata dihargai 75 dolar Amerika atau setara 1,5 juta rupiah. Nominal bisa bertambah, disesuaikan dengan kesulitan gambar yang dikerjakan.

Pemesan paling banyak yaitu dari musisi indie mancanegara, baik itu band maupun penyanyi solo. Di antaranya, Next Monarch, Spirit Motel, Trophobia, Bons Delires dari Prancis, Blue Stright asal Jepang, dan Altaview dari Amerika.

Kompilasi gambar karya Rifai yang dipesan musisi indie dari berbagai negara. (Sumber Foto: fiverr.com/radelusion)

Di situs Fiverrs.com, Rifai mendapatkan penilaian 5 bintang. Tanda ini mengindikasikan bahwa akunnya memiliki rekam jejak positif dalam memenuhi harapan klien.

“Dia mengerjakan proyek saya dengan sangat baik, menunjukkan perhatian yang besar terhadap detail, profesionalisme, dan daya tarik visual yang memukau. Sangat merekomendasikan bekerja sama dengannya,” tulis salah seorang pemesan dari Amerika dengan nama akun baracus99.

Menurut Rifai, menjamah pasar luar negeri tak cukup sekadar skill. Hal yang tak boleh dilupakan yakni jaringan sesama desainer. Trik marketing dipelajari semasa kuliah di Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI) IAIN Kediri.

Dia bergabung ke komunitas yang di dalamnya terdapat seniman lukis, mural, dan ilustrator. Dari pertemuan itulah wawasan menjual desain diperoleh. Keyakinan menambang cuan melalui dunia digital semakin kuat hingga sekarang.

“Pekerjaan desainer menjanjikan, namun tak selamanya berjalan mulus,” kata alumni MAN 2 Kota Kediri itu.

Misalnya, ketika klien tiba-tiba membatalkan pesanan padalah sudah ada kesepakatan. Seringkali pemesan juga merasa kurang puas sehingga harus revisi berulang-ulang.

Selama hampir 7 tahun menekuni dunia desain, dia mempertahankan ciri khasnya genre surealis. Dipadukan dengan gaya seni Pop Art, motif dituangkan pada gambar bunga, hewan, dan manusia.

“Ilustrasi seperti ini lebih diminati orang luar dibandingkan dengan warga Indonesia,” ujarnya.

Klien luar negeri selalu menantang karena menuntut konsep baru. Selain tak boleh molor, desain yang dipesan harus sesuai keinginan. Namun, kesulitan itu terbayar dengan nominal standar pasar internasional.

Sejauh ini, Rifai menekuni pekerjaan sebagai ilustrator digital dengan senang hati karena ini memang hobinya. Seminggu sekali dia masih bertani seperti lazimnya pemuda desa. Namun, di kaki Gunung Wilis dia terus berkarya hingga dikenal ke mancanegara. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri#people
Previous Post

Wabah PMK Bisa Disembuhkan, Peternak Tak Perlu Panik

Next Post

Imunisasi HPV Diperluas Guna Mencegah Risiko Kanker Serviks

Next Post
Produk UMKM Kota Kediri Perlu Didaftarkan ke HAKI

Imunisasi HPV Diperluas Guna Mencegah Risiko Kanker Serviks

Produk UMKM Kota Kediri Perlu Didaftarkan ke HAKI

Pembaruan Data KTP dan KK Warga yang Baru Bercerai Dipercepat

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA