• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Saturday, 7 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Penambang Pasir Sungai Brantas Terancam Tuli

15 Aug 2024
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
0
Penambang Pasir Sungai Brantas Terancam Tuli

Penambang pasir menaiki perahu ke tengah Sungai Brantas. (Foto: Dimas)

TUBUH lelaki itu basah kuyup, ujung jarinya keriput, dan sklera matanya kemerahan. Ketika sedang beristirahat di tepi Sungai Brantas, Slamet sesekali memiringkan kepala untuk mengeluarkan air dari lubang telinganya. Beberapa tahun belakangan, sensitivitas indera pendengaran penambang pasir tradisional itu sudah menurun.

Saban hari, Slamet menggali pasir di Sungai Brantas di kawasan Kota Kediri. Di batang air yang berjarak 300 meter sebelah utara Jembatan Lama itu, dia mengambil pasir pada kedalaman 3 hingga 7 meter. Dia tak menggunakan peralatan menyelam seperti kacamata, tabung oksigen, maupun penutup kuping.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kiai Ngliman, Guru Ngaji Pemberontak Tanam Paksa di Nganjuk

Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

Dari Fujian Cina, Suku Hokkian Bertahan di Kediri

“Telinga saya sering kemasukan air, pendengaran jadi tidak normal,” kata Slamet, Kamis, 8 Agustus 2024.

Menurutnya, air yang masuk ke telinga menghambat segala suara yang didengar. Bahkan saat cairan sudah dikeluarkan semua, pendengarannya tidak bisa kembali normal. Kini, siapapun yang bercakap-cakap dengannya harus bersuara lantang.

Menambang pasir sejak 1998, pria 51 tahun itu tidak mengetahui awal mula mengalami gangguan pendengaran. Dia juga sudah tidak ingat kapan pertama kali telinganya berdengung selepas bekerja. Kuping kemasukan air baginya adalah hal wajar.

Gangguan kesehatan yang dialami pria asal Jombang itu bukan hanya pendengaran. Risiko lain yang diterima di antaranya infeksi mata, mimisan, dan kram otot. Namun, masuknya air ke lubang telinga menjadi efek yang paling sering melanda para penambang. Meski air bisa segera dihilangkan, tapi cairan terus keluar dari telinga.

“Ketika mengeluarkan cairan, saya baru berhenti menambang hingga beberapa hari ke depan,” kata Slamet. 

Dia menambahkan, keluarnya cairan dibarengi sakit kepala serta melemahnya daya tahan tubuh. Sejauh ini, Slamet belum pernah melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis. Dia hanya berupaya meredakan nyeri dengan obat dan suntik antibiotik di bidan terdekat. 

Penambang tradisional mengambil pasir dengan cara menyelam ke dasar sungai. (Foto: Dimas)

Slamet bukan satu-satunya penambang pasir tradisional di sepanjang Sungai Brantas kawasan Kota Kediri. Puluhan penambang pasir kebanyakan berasal dari Jombang dan Mojokerto. Selama bekerja di Kediri, mereka disediakan tempat tinggal sementara oleh para bos pasir yang rata-rata adalah pemilik perahu.

“Orang dari luar Kediri lebih berani mengambil risiko sebagai penambang,” kata Anton Catur Wibisono, salah seorang pekerja tambang pasir di Kelurahan Semampir, Kota Kediri.

Menurutnya, para penambang dari luar daerah itu tak terlalu memperhitungkan risiko yang akan dihadapi. Sebab, mayoritas dari mereka memang sudah mengalami gangguan pendengaran sejak lama. Dari kawasan Jombang dan Mojokerto, mereka beralih menuju Kediri karena tambang pasir di daerahnya sudah tidak diperbolehkan beroperasi.

Di sepanjang aliran Brantas Kota Kediri mulai dari utara Jembatan Alun-alun hingga Jembatan Jongbiru setidaknya kini terdapat 15 titik tambang yang beroperasi. Setiap titik ada 3 hingga 4 orang penggali pasir. Tiap hari, aktivitas penambangan itu sedikitnya dilakukan dua kali. Jika permintaan pasir bertambah, mereka akan beraksi hingga malam hari.

“Semakin sering air masuk akan menimbulkan infeksi bakteri dan jamur yang menyumbat frekuensi pendengaran,” kata Elida Mustikaningtyas, Dokter Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala, dan Leher (THT-KL). 

Elida Mustikaningtyas, Dokter Spesialis THT Klinik Salsabila Kediri. (Foto: Dimas)

Dokter yang membuka praktik di Klinik Salsabila Kediri ini menjelaskan, munculnya infeksi itu akibat perubahan kondisi telinga yang mulanya bersifat asam menjadi basa karena kemasukan air. Infeksi itu akan menjadi luka dan mengeluarkan cairan nanah dari ruang dalam kuping. Jika tidak dilakukan penanganan, bakteri dan jamur akan tumbuh lalu menghambat pendengaran.

Elida menambahkan, perbedaan tekanan udara ketika menyelam juga berpotensi merusak gendang telinga. Jika hal ini terjadi, satu-satunya cara untuk menyembuhkan harus melalui proses operasi. Dengan resiko tersebut, para penambang seharusnya rutin melakukan medical check-up setidaknya setahun sekali.

Selama ini, para penambang pasir itu tidak pernah melakukan pengobatan secara serius. Gangguan pendengaran sudah dirasakan bertahun-tahun, diabaikan. Mereka hanya mengandalkan obat antibiotik. Segala risiko kesehatan tentu saja tidak ditanggung oleh perusahaan, sebab tambang pasir tradisional yang berada di Sungai Brantas itu ilegal. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #Brantas#headline#Kediri
Previous Post

Hilang dari Pasaran, Majalah Tempo Edisi Khusus Jokowi Dicetak Ulang

Next Post

Manjing, Kecilnya Manusia dalam Pameran Lukisan Godod Sutejo

Next Post
Manjing, Kecilnya Manusia dalam Pameran Lukisan Godod Sutejo

Manjing, Kecilnya Manusia dalam Pameran Lukisan Godod Sutejo

Para Perempuan dalam Pusaran Pemilihan Wali Kota Kediri

Para Perempuan dalam Pusaran Pemilihan Wali Kota Kediri

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (113)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA