TAHUN 2025 menandai genap 200 tahun meletusnya Perang Jawa (1825–1830). Dipimpin Pangeran Diponegoro, jutaan rakyat turun ke medan perang melawan kekejaman Belanda. Petani, santri, priyayi, hingga kaum perempuan bergabung dalam pertempuran berjuluk de Java Oorlog itu. Konflik terbesar menentang kolonialisme ini sekaligus meneguhkan Diponegoro sebagai simbol perlawanan bangsa Indonesia hingga sekarang.
Spirit perjuangan Raden Mas Ontowiryo itu kini masih terawat di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Melalui seni tari Reog Bulkiyo, masyarakat mengenang dahsyatnya Perang Jawa. Tarian ini diciptakan prajurit Diponegoro saat melarikan diri ke Blitar.
“Awalnya prajurit Diponegoro menciptakan gerakan Reog Bulkiyo sebagai sarana latihan perang,” kata Marjadi, Ketua Kesenian Reog Bulkiyo ketika dihubungi Kediripedia.com via telepon pada Jumat, 29 Agustus 2025.
Pria 74 tahun itu menjelaskan, pencipta tarian ini adalah Kasan Ilyas dan Kasan Mustar dari Bagelen, Jawa Tengah. Jauh sebelum kemerdekaan, kawasan itu terkenal sebagai penyedia pasukan Kerajaan Mataram. Usai Diponegoro ditangkap pada 18 Maret 1830 di Magelang, mereka melarikan diri ke Blitar. Daerah ini dipilih karena lokasinya terpencil dan memiliki kesamaan geografis dengan kawasan Bagelen.
Dalam pelarian, mereka mengatur strategi perang selanjutnya. Kekuatan fisik, kelincahan, dan keterampiran memegang senjata terus dilatih, sembari menunggu komando pertempuran.

Dari sekadar latihan bela diri, gerakan perlahan bergeser menjadi sebuah hiburan. Agar makin atraktif, prajurit itu menambahkan alat musik seperti gong, gamelan, bende, rebana, simbal, dan terompet. Berkat improvisasi tersebut, Belanda tak curiga jika mereka sedang berlatih perang.
“Dari dulu gerakan Reog Bulkiyo tetap sama, tidak ada pengurangan atau penambahan variasi,” ujar Marjadi.
Aksi pentas dimulai dengan penari melakukan hormat pada penonton. Ketika tempo musik semakin cepat, dua pembawa pedang saling beradu. Pemegang bendera atau rontek bertugas mengawasi jalannya pertarungan. Aksi saling menusuk itu berhenti ketika salah satu dari mereka telah bersimpuh sambil menahan serangan.
Menurut Marjadi, nama Bulkiyo diambil dari kisah peradaban Islam. Dalam kitab Ambiya, Bulkiyo merupakan pahlawan perang dari Negeri Mesir. Dia digambarkan sebagai pembela islam ketika bertempur dengan pasukan dari Negeri Tepas.
Bulkiyo juga digunakan sebagai nama pasukan elit Diponegoro, Laskar Bulkiyo. Sebutan ini terinspirasi dari tentara Boluc dari Kerajaan Ottoman atau Turki. Dari catatan Belanda, kualitas tempur kelompok ini setara dengan kekuatan infantri ringan tentara Eropa.
“Dari cerita pendahulu, dua orang pencipta tarian ini merupakan anggota Laskar Bulkiyo,” jelasnya.
Properti yang melekat pada penari Reog Bulkiyo juga dilestarikan hingga sekarang. Misalnya bendera bergambar Hanoman dan Dasamuka yang melambangkan putih dan merah. Serta, tombak gunungan khas mataraman yang digunakan sebagai tiang bendera, dan pedang. Sementara penambahan hanya berupa riasan wajah dan penggunaan sepatu untuk penari.

Marjadi menjadi generasi kelima pelestari Reog Bulkiyo. Kesenian ini sempat mati suri lantaran tak ada yang meneruskan. Pada tahun 2017, dia mulai mengajak masyarakat untuk berlatih. Rumah dan halamannya juga disulap menjadi sanggar kesenian. Namun kebanyakan peminatnya adalah orang tua dan masih kerabat dekat.
“Para pemuda di daerah Kemloko sangat sedikit yang tertarik dengan kesenian Reog Bulkiyo, ini menjadi tantangan untuk pelestarian,” ujarnya.
Untuk menjaga eksistensi, setiap kegiatan didokumentasikan oleh cucu Marjadi. Video tersebut kemudian diunggah di Youtube, Instagram, dan Tiktok dengan akun resmi bernama Reog Bulkiyo.
Berkat publikasi tersebut, kesenian ini semakin dikenal oleh masyarakat luas. Mereka beberapa kali diundang dalam berbagai acara seperti peringatan hari jadi Kabupaten Blitar, peringatan kemerdekaan, dan peringatan tahun baru Islam. Reog Bulkiyo juga telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2019. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post