PULUHAN pasak kayu masih tertancap di area Situs Tondowongso, Gurah, Kabupaten Kediri, Kamis, 11 September 2025. Sekitar dua minggu lalu, kawasan bersejarah dari Kerajaan Kediri itu digali dan diteliti kembali. Hasilnya, ditemukan struktur batu bata serta pondasi bangunan kuno abad ke-11.
Penggalian atau ekskavasi itu digelar pada 20-29 Agustus 2025. Dalam dunia arkeologi, ekskavasi adalah mengupas lapisan tanah untuk mengungkap data sejarah. Pada penelitian ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Jawa Timur.
“Bukan sekadar ekskavasi, tapi juga pengembangan Tondowongso menjadi kawasan wisata sejarah,” kata Eko Priatno, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Kediri.
Dia menambahkan, candi di Situs Tondowongso rencananya dibangun cungkup. Sebanyak delapan atap pelindung akan dipasang untuk mencegah kerusakan. Bentuknya kemungkinan seperti bangunan di Candi Adan-adan.

Ekskavasi Tondowongso kali ini merupakan yang keempat. Pertama pada Desember 2006, kedua 2007, berikutnya tahun 2022, dan yang terbaru 2025. Di lokasi tersebut ditemukan gapura, tiga candi pewarta atau pendamping, dan satu candi induk.
“Adanya ekskavasi pengembangan menjawab pertanyaan masyarakat tentang kelanjutan situs ini,” kata Edi Saputro, juru pelihara Situs Tondowongso.
Selain warga sekitar, sejumlah wisatawan juga banyak yang prihatin akan nasib situs bersejarah ini. Usai ekskavasi pada 2006, situs seperti dibiarkan tak terurus. Struktur batu bata kuno terpapar panas matahari. Saat musim penghujan, bahkan candi terendam air.
Pada penggalian pertama dan kedua, para arkeolog mendapati 14 arca di kedalaman 1,5 meter. Benda purbakala itu yakni arca siwa catur muka, durga mahisasuramardini, dua arca nandi, yoni, lingga, arca surya, dua arca chandra, mahakala, ardhanari, agastya, dua fragmen kaki, dan kepala.
Belasan peninggalan itu selama bertahun-tahun disimpan di Museum Trowulan. Pada 2024, artefak itu berhasil dipulangkan ke Kediri, kini disimpan di Museum Joyoboyo kawasan Pamenang.
Ekskavasi Situs Tondowongso diyakini akan terus berlanjut. Para arkeolog menyimpulkan bahwa luas situs mencapai lebih dari satu hektar. Tak heran, lokasi bersejarah ini jadi salah satu penemuan arkeologi klasik terbesar dalam 30 tahun terakhir.
Dibangun abad 11, situs tersebut diperkirakan hancur pada abad 13. Itu artinya, kawasan kuno ini terpendam hampir 700 tahun. Tondowongso kemungkinan mulai ditinggalkan seiring hilangnya Kerajaan Kediri, luluh lantak akibat banjir, serta letusan Gunung Kelud. (Dimas Eka Wijaya)







Discussion about this post