HANYA bercelana pendek, Putra berdiri di perempatan sebelah barat Pabrik Gula Mrican Kota Kediri, Rabu, 10 September 2025. Seluruh tubuhnya dilumuri cat berwarna perak. Usai beberapa kali berpose, dia berjalan menghampiri pengendara mobil dan motor.
“Permisi pak, mas, mbak,” ujar Putra sambil menyodorkan kardus berisi uang receh.
Sebagian besar pengguna jalan itu bergeming. Beberapa tampak mengangkat tangan. Ada yang menggelengkan kepala, tanda menolak memberi uang. Meski terik matahari menyengat, pria 27 tahun itu tetap bersemangat. Dia terus melakukan aksi serupa berulang-ulang hingga sore hari.
Menjadi manusia silver tidak ada dalam daftar pekerjaan impian Putra. Mata pencaharian ini terpaksa dijalaninya karena beberapa bulan lalu kena PHK. Ego, gengsi, dan perasaan malu dikalahkan demi tetap menafkahi anak dan istri.
“Kerja seperti ini juga sambil mengumpulkan modal. Rencana mau jualan sayur,” kata lelaki asal Mojoroto, Kota Kediri itu.
Selama jadi manusia silver, dia mengaku belum pernah mengalami gangguan kesehatan. Cat warna perak bercampur minyak yang dilumurkan ke sekujur badan hanya menimbulkan rasa lengket. Hal yang membuatnya terus gelisah justru stigma buruk dari tetangga dan orang terdekat.
Lebih jauh Putra mengatakan, dia pernah direndahkan salah seorang pengguna jalan. Bukan sekadar hinaan, namun diperlakukan tidak senonoh.
“Saya disuruh menghubungi nomor yang diberikan oleh pengguna jalan, lalu diiming-imingi akan diberi uang asal mau diajak hubungan badan,” ujar Putra.
Kisah manusia perak yang mengadu nasib di jalanan Kota Kediri juga dijalani Iwan. Saban hari, dia beroperasi di Perempatan Bence. Baginya, tatapan sinis pengguna jalan, hinaan, dan dianggap remeh seperti makanan sehari-hari.
Sama seperti Putra, Iwan juga mengaku terpaksa bekerja jadi manusia silver. Lelaki asal Tulungagung itu baru saja diusir keluarga karena keputusannya menjadi mualaf. Dia masuk Islam saat mendekam di penjara akibat kasus pembunuhan.
“Bebas dari penjara sekitar satu bulan, tapi langsung diusir keluarga,” kata pria 43 tahun itu.
Baru sebulan jadi manusia silver, Iwan sudah harus berurusan dengan petugas Satpol PP. Dia bahkan pernah dikejar, namun berhasil melarikan diri.
Iwan mengaku telah menyesali masa lalunya. Untuk saat ini, belum ada pekerjaan halal selain jadi manusia silver. Di usia memasuki paruh baya, yang dia butuhkan hanya ketenangan hidup.Uang recehan dari bekerja sebagai manusia silver dikumpulkan untuk ongkos berangkat ke Padang, Sumatera Barat. Dia berencana mengunjungi teman, kemudian masuk pondok pesantren. (M. Nafis Risqy Aditya, Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syekh Wasil Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post