SERIBU lebih benda bersejarah dari era purba hingga kerajaan ditata berdempetan. Berukuran 8 x 15 meter, ruang display Museum Daerah Tulungagung itu tak cukup lagi menampung barang purbakala. Enam batu prasasti, lingga-yoni, artefak maritim, dan arca-arca terpaksa diletakkan di teras. Salah satunya, Prasasti Lawadan yang dijadikan penentu Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
“Koleksi museum terus bertambah dari tahun ke tahun,” kata Bagus, salah seorang staf museum, Kamis, 11 September 2025.
Dari pendataan terakhir tahun 2023, jumlahnya mencapai 1044 benda. Menurut Bagus, ruangan 8 x 15 meter idealnya menampung tidak lebih dari 200 koleksi. Meskipun tempat terbatas, pengelola terus berupaya merawat benda-benda bersejarah tersebut.
Di halaman museum, Prasasti Lawadan ditaruh di pendapa kecil dekat gerbang masuk. Sedangkan arca serta belasan artefak lain ditata berjejer di teras. Tanpa pelindung maupun pagar, lokasi itu hanya berjarak tiga meter dari area persawahan di sebelah utara museum.

“Kalau museumnya lebih luas mungkin akan terlihat lebih rapi,” kata Ahmad Wisnu Febriansyah, pengunjung museum.
Dia juga mengeluhkan papan penjelasan tiap koleksi yang sulit dibaca. Meski di siang hari, ruangan tampak gelap sehingga mengurangi keindahan museum sebagai lokasi wisata.
Ruang pamer Museum Tulungagung itu diisi berbagai macam barang-barang dari peradaban masa silam. Selain dari era prasejarah dan kerajaan, ruangan yang hanya disekat papan triplek itu menyimpan perabot rumah tangga hingga mainan. Antara lain egrang, dakon, koin kuno, setrika arang, lemari, dan cangkul. Ada juga alat-alat nelayan seperti perahu dan jala.
Didirikan pada tahun 1995, tempat ini awalnya disebut Museum Wajakensis. Baru pada 2020, nama berganti menjadi Museum Daerah Tulungagung.
Agung Cahyadi, sejarawan Tulungagung mengatakan bahwa museum perlu diperluas. Dengan begitu, koleksi dapat aman dari cuaca dan pencurian. Sebab, museum itu menyimpan jejak peradaban panjang. Di antaranya, sejumlah artefak peninggalan manusia purba Homo Wajakensis.
“Pada 2018 atau 2019, pernah ada rencana pembangunan museum di lahan sebelah utara. Namun belum terealisasi hingga sekarang,” kata Agung.
Guru Sejarah SMA 1 Kedungwaru Tulungagung itu menambahkan, tertundanya pembangunan itu mungkin terjadi akibat pandemi Covid-19. Tiap tahun, penemuan benda bersejarah terus bertambah. Dia berharap pendirian gedung baru segera dilakukan. (Mizanatul Muttaqin, Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung,sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post