• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Saturday, 17 January 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Koleksi Terus Bertambah, Museum Tulungagung Perlu Diperluas

17 Sep 2025
in DESTINASI
Reading Time: 2 mins read
0
Koleksi Terus Bertambah, Museum Tulungagung Perlu Diperluas

Seorang pengunjung keluar dari gedung Museum Daerah Tulungagung. (Foto: Mizanatul)

SERIBU lebih benda bersejarah dari era purba hingga kerajaan ditata berdempetan. Berukuran 8 x 15 meter, ruang display Museum Daerah Tulungagung itu tak cukup lagi menampung barang purbakala. Enam batu prasasti, lingga-yoni, artefak maritim, dan arca-arca terpaksa diletakkan di teras. Salah satunya, Prasasti Lawadan yang dijadikan penentu Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.

“Koleksi museum terus bertambah dari tahun ke tahun,” kata Bagus, salah seorang staf museum, Kamis, 11 September 2025.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

Huruf Era Kediri Kuno Mempercantik Jembatan Brawijaya

Lawadan, Prasasti yang Menandai Tulungagung Menjadi Wilayah Merdeka

Dari pendataan terakhir tahun 2023, jumlahnya mencapai 1044 benda. Menurut Bagus, ruangan 8 x 15 meter idealnya menampung tidak lebih dari 200 koleksi. Meskipun tempat terbatas, pengelola terus berupaya merawat benda-benda bersejarah tersebut.

Di halaman museum, Prasasti Lawadan ditaruh di pendapa kecil dekat gerbang masuk. Sedangkan arca serta belasan artefak lain ditata berjejer di teras. Tanpa pelindung maupun pagar, lokasi itu hanya berjarak tiga meter dari area persawahan di sebelah utara museum.

Sejumlah prasasti dan artefak yang diletakkan di teras museum. (Foto: Mizanatul)

“Kalau museumnya lebih luas mungkin akan terlihat lebih rapi,” kata Ahmad Wisnu Febriansyah, pengunjung museum.

Dia juga mengeluhkan papan penjelasan tiap koleksi yang sulit dibaca. Meski di siang hari, ruangan tampak gelap sehingga mengurangi keindahan museum sebagai lokasi wisata. 

Ruang pamer Museum Tulungagung itu diisi berbagai macam barang-barang dari peradaban masa silam. Selain dari era prasejarah dan kerajaan, ruangan yang hanya disekat papan triplek itu menyimpan perabot rumah tangga hingga mainan. Antara lain egrang, dakon, koin kuno, setrika arang, lemari, dan cangkul. Ada juga alat-alat nelayan seperti perahu dan jala.

Didirikan pada tahun 1995, tempat ini awalnya disebut Museum Wajakensis. Baru pada 2020, nama berganti menjadi Museum Daerah Tulungagung.

Agung Cahyadi, sejarawan Tulungagung mengatakan bahwa museum perlu diperluas. Dengan begitu, koleksi dapat aman dari cuaca dan pencurian. Sebab, museum itu menyimpan jejak peradaban panjang. Di antaranya, sejumlah artefak peninggalan manusia purba Homo Wajakensis.

“Pada 2018 atau 2019, pernah ada rencana pembangunan museum di lahan sebelah utara. Namun belum terealisasi hingga sekarang,” kata Agung.

Guru Sejarah SMA 1 Kedungwaru Tulungagung itu menambahkan, tertundanya pembangunan itu mungkin terjadi akibat pandemi Covid-19. Tiap tahun, penemuan benda bersejarah terus bertambah. Dia berharap pendirian gedung baru segera dilakukan. (Mizanatul Muttaqin, Mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung,sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #headline#SEJARAH
Previous Post

Tak Ada yang Ingin Jadi Manusia Silver Selamanya

Next Post

Kisah Sumur Bor di Ujung Jalan Dhoho yang Tertutup Pos Polisi

Next Post
Kisah Sumur Bor di Ujung Jalan Dhoho yang Tertutup Pos Polisi

Kisah Sumur Bor di Ujung Jalan Dhoho yang Tertutup Pos Polisi

Desiminasi liputan investigasi kolaborasi. (foto: dok depatiproject)

Liputan Kolaborasi Penyelamatan Hutan Pulau Sipora Mentawai

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (110)
  • DESTINASI (112)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (223)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA