PAPAN biru masih menutup seluruh pintu, jendela, dan lubang ventilasi pos polisi Sumur Bor Kota Kediri, Kamis, 18 September 2025. Usai dihancurkan massa saat kerusuhan sebulan lalu, belum tampak aktivitas petugas di ujung selatan Jalan Dhoho itu.
Sebutan Sumur Bor diambil dari keberadaan sumur artesis di kawasan ini. Disebut artesis karena air otomatis naik ke permukaan tanpa dipompa. Sayangnya, bentuk fisik sumur dari era Kolonial Belanda itu tak lagi tampak karena tertutup pos polisi.
Pada 1980-an, saat gardu masih terbuka, tepat di utara pos dulunya ada gang kecil menuju sumur. Pintunya tak pernah dikunci, sehingga memudahkan warga mengambil air.
“Dulu sumur itu sering dipakai para pedagang, untuk membasuh muka dan mencuci kaki,” kata Slamet, Ketua RW 02, Kelurahan Jagalan, Kota Kediri.
Pria kelahiran 1962 itu menjelaskan, para penjual saat itu berkeliling dengan memikul barang dagangan. Mereka mangkal di sekitar Jalan Dhoho, Pattimura, dan Pasar Panjonan. Pasar ini terletak di timur sumur bor. Saking ramainya, pada 1970-an seluruh lapak kemudian dipindah ke area satu kilometer ke arah timur, yang sekarang menjadi Pasar Setono Betek.

Lelaki Tionghoa ini juga masih mengingat derasnya air yang keluar dari sumur. Dari kejauhan, bahkan suaranya terdengar.
“Sumurnya masih ada dan airnya masih mengalir,” ujar Bhabinkamtibmas Kelurahan Jagalan Polsek Kediri Kota Aiptu Soni Andiyan Effendi.
Dia menambahkan, sumur itu sekarang dipasang pipa. Besar kemungkinan, saat ini dimanfaatkan untuk kamar mandi pos polisi.
Dari riset data Kediripedia.com, sumur bor yang didirikan Belanda itu disebut artesische put. Belum ada keterangan jelas kapan sumur itu dibangun. Namun, bisa jadi berkaitan dengan upaya Belanda mengontrol wabah kolera pada 1920-an.
Pada era itu, baik warga Indonesia maupun Belanda, kualitas air yang dikonsumsi sama-sama buruk. Kurangnya sanitasi menyebabkan wabah kolera makin menyebar. Dari situlah adanya sumur artesis berperan penting. Sumur dengan kedalaman puluhan meter tersebut menghasilkan air lebih bersih serta minim bakteri.

Peta tahun 1927 menunjukkan, air dari sumur bor dialirkan lewat rangkaian pipa ke permukiman hingga gedung-gedung administratif. Misalnya ke kawasan pecinan hingga ke stasiun dan gedung Bank Indonesia. Ada dua sumur artesis yang dibangun. Selain di ujung selatan Jalan Dhoho, ada pula di depan Rumah Sakit Gambiran, sekarang RS Kilisuci.
Sumur Bor di masa lalu bukan hanya sebagai penyedia air bersih. Meski kini bentuk fisiknya tak tampak, sumur itu menandai sejarah modernisasi Kota Kediri. (Noviana Hamieda, Mahasiswa Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UIN Syekh Wasil Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)







Discussion about this post