USAI hancur akibat dilalap api setahun lalu, tiang sebelah barat Jembatan Brawijaya Kota Kediri mulai direnovasi pada Selasa, 23 September 2025. Bukan hanya di bagian yang terbakar, pembenahan juga dilakukan di hampir seluruh badan material pilar. Keempat tiang rencananya dihiasi ornamen aksara kuadrat, huruf penanda Kerajaan Kediri dari abad ke-11.
Menurut catatan sejarah, huruf kuadrat merupakan gaya penulisan atau font bahasa Jawa Kuno. Ciri khasnya berbentuk persegi dan ditulis timbul dari permukaan medianya. Aksara itu akan ditulis dengan warna emas pada tiang-tiang Jembatan Brawijaya.
“Kami mengusung konsep kejayaan, ada nuansa keemasan yang harapannya bisa menjadi ikon baru di Kota Kediri,” kata Yono Heryadi, Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Kediri.
Kalimat yang ditulis pada pilar mengambil tema khas Kediri dan bernilai kebangsaan. Di antaranya Djojo ing Bojo yang artinya mengalahkan marabahaya, Bhineka Tunggal Ika, dan Tut Wuri Handayani.

Menurut Yono, aksara kuadrat dihadirkan sebagai upaya menghidupkan kembali kearifan lokal Kota Kediri. Realisasi konsep ini membutuhkan kajian panjang dan mendalam. Praktisi, arkeolog, dan ahli konstruksi dilibatkan untuk mengkaji penyusunan serta penempatan posisi huruf kuadrat.
Dari bentuknya, huruf ini amat cocok jika dimanfaatkan sebagai ornamen bangunan arsitektur modern. Sedangkan dari kajian budaya, huruf ini jadi identitas kejayaan Kerajaan Kediri. Persebarannya banyak ditemukan di bangunan bersejarah sekitar Gunung Wilis.
“Proses rehabilitasi ditargetkan akan selesai pada 16 Desember 2025,” kata Yono.
Anggaran pelaksanaan bersumber dari APBD dengan nominal Rp 3,8 miliar. Namun, setelah melalui proses tender dan dimenangkan oleh CV. Abricon proyek ini berhasil ditekan menjadi Rp 3,3 miliar.
Dia menambahkan, selain karena terbakar, Jembatan Brawijaya memang perlu dibenahi.

Sejak beberapa tahun lalu seluruh tiang warnanya mulai pudar. Rencananya, lembaran fiber yang melapisi beton cor setebal 40 centimeter itu diganti dengan material yang tahan api dan cuaca ekstrem.
Pelaksanaan proyek ini juga telah disetujui Vinanda Prameswati, Wali Kota Kediri. Dari rencana awal memperbaiki satu tiang yang terbakar, perombakan pada akhirnya dibuat menyeluruh.
“Selama proses pengerjaan, pembangunan tidak akan mengganggu lalu lintas,” kata I Made Dwi Permana, Kepala Bidang Bina Marga, Dinas PUPR Kota Kediri.
Jembatan Brawijaya beberapa hari ke depan diyakini akan semakin padat seiring penutupan Jembatan Semampir. Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) diterapkan untuk pekerja dan pengendara yang melintas.(Dimas Eka Wijaya)






