“Gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar. Gunung Kampud, gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara.”
POTONGAN syair tersebut diambil dari buku Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Pujangga era Majapahit itu menarasikan dahsyatnya erupsi Gunung Kelud tahun 1334 yang menelan banyak korban jiwa. Puluhan bangunan peribadatan serta permukiman hancur dihujani material vulkanik dan terjangan lahar. Salah satunya, Situs Tondowongso di Gurah, Kabupaten Kediri.
Saat ditemukan pada 2006, situs terpendam oleh tujuh lapisan tanah. Para sejarawan menemukan bahwa kawasan itu beberapa kali terendam banjir. Namun, Tondowongso bukan sekadar peninggalan purbakala. Dari kawasan inilah titik era kehancuran Kerajaan Kediri bisa dideteksi.
Kejatuhan itu dimulai ketika Ken Arok, penguasa Tumapel menyerang Kediri pada 1222. Kertajaya, raja terakhir Kediri dibunuh saat Perang Ganter. Dari peristiwa tersebut, Jawa berganti wangsa atau dinasti. Dari keturunan Mpu Sindok ke wangsa Rajasa yang kemudian dikenal dengan Kerajaan Singasari.
Hal tersebut dijelaskan Sugeng Riyanto dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) lewat bukunya “Tondowongso: Tanda Peradaban Wangsa di Jawa Abad XI-XII. Buku terbitan balai arkeologi ini menjabarkan bahwa situasi politik mengubah banyak bidang, termasuk gaya arsitektur dan keagamaan.
“Kedudukan dan peran kompleks keagamaan Tondowongso ikut menurun seiring kekalahan Kediri,” tulis Sugeng Riyanto.
Seperti namanya, “tondo” berarti tanda. Sedangkan “wongso” artinya dinasti yang berkuasa. Tondowongso menandai berpindahnya pusat peradaban dari Daha di Kediri ke Tumapel, atau sekarang Malang.
Orientasi keagamaan juga berubah. Dari awalnya Hindu aliran Siwaisme ke agama Siwa-Buddha. Sehingga, kompleks bangunan suci Tondowongso mulai ditinggalkan. Bahkan dibiarkan terbengkalai ketika dihantam letusan Kelud.

Situs Tondowongso diperkirakan hancur pada abad 13. Komplek ini kemudian terpendam selama 700 tahun. Pada era kolonial Belanda, lahan di atasnya ditanami tebu. Belanda bahkan membelokkan aliran sungai ke area situs. Sehingga, ketika musim hujan kawasan itu seperti rawa.
“Penemuan ini menjadi data penting untuk mengungkap Dahana Pura atau Kerajaan Kediri yang hilang,” kata kata Eko Priatno, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Kabupaten Kediri.
Dari 15 arca yang ditemukan, semuanya merujuk ke konsep Hindu Siwaisme. Menurut Eko, dari temuan itu, arca siwa catur muka yang menjadi masterpiece karena memiliki empat wajah.
Sedangkan dari ekskavasi terbaru pada Agustus 2025, ditemukan struktur tembok batu bata. Situs Tondowongso diperkirakan memiliki luas satu hektar. Komplek besar ini mencakup Candi Gurah dan Gapura Ponijo.
“Dari pemetaan itu bisa diidentifikasikan bahwa Tondowongso merupakan mandala kedewaguruan atau semacam pesantren,” jelas Eko.
Eko menambahkan, orang-orang yang belajar ilmu keagamaan di Situs Tondowongso disebut cantrik. Istilah itu berasal dari bahasa sansekerta dan sudah ada sejak masuknya Hindu di Nusantara. Kata itu yang kemudian diadopsi menjadi santri, artinya orang yang sedang mendalami ilmu agama.
Keberadaan Tondowongso juga dikaitkan dengan Candi Adan-adan yang bercorak Buddha. Lokasinya 4 kilometer sebelah barat Tondowongso. Jika menganut Kitab Negarakertagama tentang pola tata kota, dua tempat ibadah memang sengaja dibangun berdekatan.
Dari data tersebut, maka istana raja diduga tak jauh dari Tondowongso. Hipotesis terakhir, para sejarawan memperkirakan istana berada di daerah Pamenang. Namun, hal itu masih perlu penelitian lebih lanjut. (Kholisul Fatikhin)







Discussion about this post