• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 3 May 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Kadir, Seniman Terakota Berbahan Baku Tanah Gunung Wilis

29 Oct 2021
in PEOPLE
Reading Time: 3 mins read
Kadir, Seniman Terakota Berbahan Baku Tanah Gunung Wilis

USIANYA kini sudah menginjak 64 tahun, tapi semangat Kadir untuk terus berkarya tak pernah surut. Setiap hari, dia berupaya menciptakan inovasi berbagai karya seni dari tanah liat. Selama hampir setengah abad menekuni dunia seni kriya ini, entah ratusan atau ribuan tembikar yang lahir dari tangannya.

Keterampilan menyulap gumpalan tanah lempung menjadi benda-benda artistik ini dipelajarinya secara otodidak. Aktivitas Kadir sebagai produsen tembikar berada di rumahnya di Desa Kedungsari, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kawasan di lereng Gunung Wilis itu juga populer dengan sebutan Kampung Gerabah.  

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jangan Sebar Berita Bunuh Diri di Medsos

Warga Buka Blokade TPA Klotok, Pembuangan Sampah Kota Kediri Normal

Warga Pojok Blokade TPA Klotok, Sampah se-Kota Kediri Menggunung

Sama seperti puluhan warga lainnya, awalnya Kadir hanya memproduksi barang gerabah seperti cowek, kendi, maupun kuwali dari bahan tanah lempung. Hingga pada suatu titik, dia merasa bahwa gumpalan tanah lempung tidak boleh hanya berhenti sebatas alat dapur. Akan tetapi, bisa dirupakan menjadi benda yang mempunyai unsur keindahan seperti celengan, vas bunga, asbak, guci, dan patung.

“Tembikar berbeda dengan gerabah. Pembuatan tembikar lebih rumit, karena harus melalui berbagai proses hingga terlihat mengkilap seperti keramik,” kata Kadir, Rabu, 21 Oktober 2021.

Selain itu, benda yang disebut gerabah lebih cenderung merujuk ke peralatan dapur. Sedangkan tembikar yang biasa juga disebut terakota biasanya difungsikan sebagai aksesoris ruangan karena mengedepankan unsur seni dan keindahan.

Di periode awal mempelajari cara pembuatan tembikar, Kadir sempat kesulitan merumuskan komposisi terbaik. Misalnya, dalam hal mencari bahan tanah liat yang benar-benar cocok. Setelah melakukan ribuan uji coba atau trial and error, akhirnya formula yang tepat untuk pembuatan terakota berkualitas berhasil ditemukan.

“Demi menemukan tanah liat terbaik, hampir setiap hari saya harus naik turun gunung sejauh 17 kilometer,” kenangnya.

Perjalanan lelaki empat anak ini menyusuri bukit-bukit di Gunung Wilis ditempuh menggunakan sepeda pancal. Saat itu, dia bertekad mengukir sejarah sebagai pionir produsen tembikar atau terakota pertama di Desa Kedungsari.

Tembikar guci, vas, dan patung buatan Kadir. (Foto: Nurlailia)

Pada akhirnya, adagium bahwa proses memang tak mengkhianati hasil, ternyata benar. Keterampilan yang dipelajari bertahun-tahun itu mengantarkan Kadir mendapatkan beasiswa dari pemerintah. Dia diberikan kesempatan menempuh perkuliahan di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Surabaya.

Menurutnya, momen belajar di perguruan tinggi bukan semata-mata mengejar gelar, akan tetapi semakin mendalami dunia seni kriya yang berhubungan dengan pengolahan tanah liat.

Skill yang kian matang membuat karya-karya Kadir banyak diminati. Bukan hanya di Kediri, tapi juga dari kota-kota besar di Pulau Jawa misalnya Jakarta dan Surabaya, maupun daerah luar pulau seperti Kalimantan dan Papua.

“Pemasaran kebanyakan dilakukan secara door to door, salah satunya dititipkan ke toko-toko,” ujar Kadir.

Berbagai model terakota itu dipatok dengan harga beragam. Mulai dari 25 ribu sampai 1.5 juta, tergantung ukuran dan kerumitan pembuatan. Misalnya, yang paling mahal yaitu patung rajawali, prosesnya paling sulit karena banyak detail kontur yang perlu diperhatikan.

Dalam proses pembuatan, Kadir dibantu delapan karyawan. Sejauh ini, strategi pemasaran masih tradisional, di antaranya menunggu pesanan dan menitipkan ke toko. Namun, dalam waktu dekat dia akan merambah dunia digital.

Penghasilan Kadir rata-rata mencapai 3 sampai 7 juta perbulan. Berkat kerja kerasnya menjadi seniman terakota ini, dia bisa melaksanakan ibadah haji dan membangun empat rumah bagi anak-anaknya.

“Saya bersyukur, langkah saya membuat tembikar kini mulai diikuti warga sekitar,” kata Kadir.

Dia berharap, warga Kedungsari terus melahirkan inovasi dari kerajinan tanah liat. Selain mempertahankan budaya warisan leluhur, juga sebagai upaya membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. (Nurlailia Herman, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com dalam Program Kampus Merdeka Kemendikbud)

Tags: #headline#kerajinan#patung#people#UMKM
Previous Post

Goa Selomangleng Pernah Menjadi Makam Terbuka Seperti Trunyan

Next Post

Membaca Estetika Nusantara Lewat Mata Mantan Agen CIA

Next Post
Membaca Estetika Nusantara Lewat Mata Mantan Agen CIA

Membaca Estetika Nusantara Lewat Mata Mantan Agen CIA

Eksplorasi Gas di Bojonegoro Akan Segera Dimulai

Eksplorasi Gas di Bojonegoro Akan Segera Dimulai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA