• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 10 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Goa Selomangleng Pernah Menjadi Makam Terbuka Seperti Trunyan

26 Oct 2021
in DESTINASI
Reading Time: 2 mins read
0
Goa Selomangleng Pernah Menjadi Makam Terbuka Seperti Trunyan

SITUS arkeologi yang nyaris tak bisa dipisahkan dengan Kerajaan Kediri, salah satunya yaitu Gua Selomangleng. Menurut catatan sejarah, gua yang terbentuk dari batu andesit raksasa ini pernah menjadi lokasi pertapaan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Airlangga. Akan tetapi, penelitian terbaru menyebutkan, gua di kaki Gunung Klotok itu ternyata juga digunakan sebagai makam terbuka atau open burial.

Novi Bahrul Munib, sejarawan Kediri menjelaskan, fungsi Gua Selomangleng mirip dengan Makam Trunyan di Bali. Di kompek tersebut, jenazah tidak dikuburkan, melainkan hanya diletakkan di tempat terbuka, dibiarkan membusuk, hingga menyatu dengan tanah.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Gunung Sari, Makam di Antara Kisah Laskar Diponegoro dan Sekartaji

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

“Narasi bahwa Gua Selomangleng dulunya adalah makam terbuka diambil dari pembacaan relief bersama para arkeolog,” kata Novi, Selasa, 19 Oktober 2021.

Ketua Komunitas Pelestari Sejarah Kadhiri itu menambahkan, petunjuk yang paling menguatkan yaitu panil relief di dinding utara gua. Ukiran tiga dimensi itu menampilkan visualisasi tengkorak serta mayat dengan usus terburai.

Menurut Novi, keberadaan makam terbuka Gua Selomangleng masih menjadi bagian dari ritual bertapa di era kerajaan. Upacara keagamaan tersebut dikenal dengan Asubha. Ritual ini dilakukan dengan mewajibkan petapa duduk di dekat mayat.

“Para petapa harus mampu menghilangkan jijik ketika mencium dan melihat mayat membusuk,” ujar Sarjana Fakultas Sejarah Universitas Negeri Malang itu.

Upacara tersebut dilakukan sebagai pengingat bahwa suatu saat mereka akan mengalami kondisi seperti mayat, mengeluarkan bau busuk hingga menjadi tengkorak. Sedangkan dari sisi spiritual, bertujuan untuk melepaskan diri dari nafsu dunia.

Relief di dinding Goa Selomangleng (Foto: Verlian Dinanta)

Kisah tentang ritual keagaaman Kediri di masa lalu itu akan terus ditelaah hingga mendapat gambaran lengkap. Salah satunya, mengidentifikasi di lokasi sebelah mana makam terbuka itu berada.

Novi menerangkan, Gua Selomangleng yang dibuat pada zaman Raja Airlangga era Kerajaan Kahuripan ini masih menyimpan berbagai narasi sejarah. Sebab, gua dengan 4 ruangan ini telah melalui berbagai kontinuitas budaya dan renovasi. Bangunan suci yang didirikan pada abad 10 M terus digunakan sebagai tempat bertapa para kerabat raja-raja penguasa tanah Jawa yang silih berganti.

Penamaan Selomangleng berasal dari dua kata yakni Selo dan Mangleng dengan kata dasar Leng. Dalam Bahasa Jawa, Selo berarti Batu, Mang merupakan kata imbuhan, sedangkan Leng artinya lubang. Maka, Gua Selomangleng memiliki arti batu yang dilubangi.

“Selain relief yang menceritakan sisi spiritual, masih banyak kisah-kisah di dinding Gua Selomangleng yang perlu diungkap,” ujar Novi.

Termasuk, relief berbentuk seperti peta kawasan yang kemungkinan besar adalah wilayah Kerajaan Kediri. Melalui pembacaan komprehensif relief Gua Selomangleng, harapannya dapat memberikan gambaran tentang peradaban Kediri di masa lalu yang selama ini masih diselimuti misteri. (Verlian Dinanta, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP Kediri, sedang magang di Kediripedia.com dalam Program Kampus Merdeka Kemendikbud)

Tags: #headlineDestinasiGoa SelomanglengTrunyan
Previous Post

Sewa Alat Mendaki Gunung Itu Murah

Next Post

Kadir, Seniman Terakota Berbahan Baku Tanah Gunung Wilis

Next Post
Kadir, Seniman Terakota Berbahan Baku Tanah Gunung Wilis

Kadir, Seniman Terakota Berbahan Baku Tanah Gunung Wilis

Membaca Estetika Nusantara Lewat Mata Mantan Agen CIA

Membaca Estetika Nusantara Lewat Mata Mantan Agen CIA

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA