• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Monday, 9 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home EDUKASI

Guru Sepuh di Surabaya Menciptakan 120 Lagu Selama Pandemi

28 Dec 2020
in EDUKASI
Reading Time: 3 mins read
0
Guru Sepuh di Surabaya Menciptakan 120 Lagu Selama Pandemi

DUDUK bersila, mengenakan blangkon, dan berbaju batik, Poedianto memetik gitar sembari melantunkan lagu berjudul “Ojo Gegabah”. Tembang dengan lirik bahasa Jawa yang berisi nasehat itu merupakan ciptaannya sendiri. Selama pandemi Covid-19, guru Bahasa Jawa di SMK Pariwisata Satya Widya Surabaya ini sudah menghasilkan 120 karya.

Ide tentang mengarang lagu muncul saat semua pembelajaran dipindahkan ke online. Kondisi tersebut rupanya berhasil mendorong kreatifitas Poedianto. Kakek 61 tahun tersebut lalu mulai merangkai diksi-diksi Jawa menjadi lagu. Tujuannya yaitu agar pelajaran lebih gampang dipahami para siswa.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Evie, Guru Tunanetra yang Mahir Mengajar di Kelas Gelap

Murid Sekolah Alam di Kediri Kampanyekan Daur Ulang Sampah

Wamen Komdigi dan Tokoh Bangsa Mengkaji Gelap Terang Indonesia di Reuni Aktivis Pers Mahasiswa

”Mengajar Bahasa Jawa secara online akan lebih mudah dipahami oleh siswa jika diajarkan lewat lagu,” ujar Poedianto, Senin 28 Desember 2020.

Menurutnya, merangkai lirik tidak boleh sembarangan. Hal prinsip yang perlu diperhatikan salah satunya adalah pesan yang ingin disampaikan. Sejauh ini, lagu ciptaannya terdiri dari berbagai tema. Selain soal nasehat hidup, ada pula yang bercerita tentang pendidikan, persahabatan, bahkan asmara.

Inspirasinya membuat syair maupun nada kebanyakan muncul saat sedang bersantai di rumahnya di Jalan Menur Nomor 84 Kota Surabaya. Poedianto mengatakan, waktu luang di saat pembelajaran online memberikan banyak peluang menjadi lebih produktif.

“Semua lagu karangan saya di masa pandemi dapat dilihat di Youtube dengan nama akun Poedianto SH,” kata pria lulusan Fakultas Sastra Indonesia Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Dalam proses pengambilan gambar, dia dibantu sang istri, Ratna Susilowati dan cucunya, Kaka Akbar. Semua lagu tersebut diberi judul berbahasa jawa. Di antaranya, Paringan Rejeki, Sumilir Angin Wengi, Mung Kaya Ngene, Udan Isuk, Ojo Sumelang, Guru, Wancine Surup, Kelingan Rina Wengi, Darmaning Urip, Tembang Rembulan, Sinden, dan Ngombe Es Dhegan.

Dia mengaku jika lagu ciptaanya hanyalah karya sederhana. Apabila ada penyanyi yang berkenan, sangat dibolehkan menyanyikan lagu tersebut.  

“Saya sebenarnya tidak ingin jadi penyanyi. Soalnya suara saya memang jelek, tetapi saya menikmati sebagai pencipta lagu Jawa,” kata kakek cucu 5 itu.

Kecintaan pada Bahasa Jawa terus mendorong semangatnya terus berkarya. Selain lagu, Poedianto juga aktif menulis cerita pendek. Di antaranya berjudul  Sang Guru, Perawan Sendang Madu, dan Cinta Suci di Kaki Gunung Wilis. Semuanya ditulis di sela kesibukan mengajar di sekolah tempatnya mengabdi.

Beberapa tahun belakangan, sangat banyak lagu Jawa bermunculan dan populer. Akan tetapi menurut Poedianto, syair yang digunakan cenderung biasa alias bahasa keseharian di masyarakat. Padahal, bahasa Jawa masih banyak menyimpan diksi-diksi yang menarik.

Nah, melalui lagu maupun tulisan yang telah dikarang, dia berharap dapat memberikan kontribusi dalam melestarikan bahasa Jawa.Poedianto mengatakan, upaya tersebut harus dimulai di bangku pendidikan. Sebab, garda terdepan untuk menjaga kelangsungan bahasa, seni, budaya, dan tradisi bergantung pada pelajaran sekolah. Peserta didik harus dikenalkan tentang kebudayaan Jawa mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

”Dengan karya-karya itu, saya tidak mengejar ketenaran. Saya hanya ingin mengedukasi dan membuat generasi muda mencintai bahasa Jawa,” ujarnya. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #bahasa#headline#jawa#PENDIDIKAN#surabaya
Previous Post

Empat Seniman Berjuang Menyehatkan Alam Sekitar

Next Post

Motif Tenun Ikat Kediri Perlu Didokumentasi

Next Post
Motif Tenun Ikat Kediri Perlu Didokumentasi

Motif Tenun Ikat Kediri Perlu Didokumentasi

Wayang Perlu Dikenalkan Sejak Dini

Wayang Perlu Dikenalkan Sejak Dini

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA