• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 18 January 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Jejak Kuliner Sambal Tumpang dari Serat Centhini hingga Jalan Dhoho

22 Nov 2024
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
0
Jejak Kuliner Sambal Tumpang dari Serat Centhini hingga Jalan Dhoho

Penjual nasi tumpang di trotoar Jalan Dhoho Kota Kediri. (Foto: Dimas/Kediripedia.com)

RADEN Mas Cebolang, pria yang piawai menabuh rebana itu menyusuri hutan di timur Candi Prambanan. Saat hendak menuju Surakarta, langkahnya terhenti di masjid kecil milik Pangeran Tembayat di Klaten. Cebolang dipersilahkan mampir lalu disuguhi lethok. Hidangan berbahan dasar tempe setengah busuk ini dikenal juga dengan sambal tumpang.

Kisah pengembaraan Cebolang hingga mencicipi sambal tumpang itu tertulis dalam Serat Centhini jilid 3 bait 41. Terbit tahun 1814, manuskrip setebal 3.112 halaman ini sejatinya menceritakan kehidupan Jawa pada 1600-an di era Sultan Agung Kerajaan Mataram Islam. Itu artinya, sambal tumpang diperkirakan berusia lebih dari 4 abad dan lebih tua dari Serat Centhini.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

Laksamana Laut Makassar yang Terasing di Pegunungan Malang

Candi Tuban, Situs Arkeologi di Tulungagung yang Dihancurkan Saat Tragedi 1965

“Brambang jae santen tempe, asem sambel lethokan, gudhang tumpang,” begitu tulisan yang mendeskripsikan sambal tumpang di Serat Centhini.

Kata gudhang merujuk pada sayur-sayuran yang direbus lalu disiram sambal tumpang. Dalam penyajiannya, ia lebih berfungsi sebagai bumbu tabur atau topping. Kuah kental dari campuran santan dan tempe setengah busuk itu tidak bisa dinikmati langsung seperti halnya sup.

Dari riset yang dilakukan Kediripedia.com, masyarakat Jawa diperkirakan sudah mengenal sambal tumpang seiring kegemaran mengkonsumsi tempe, makanan dari fermentasi kedelai. Asal-usul kata tempe berasal dari bahasa Jawa Kuno, yakni tumpi yang artinya berwarna putih. Sedangkan bahan dasar tumpang disebut tempe semangit: tempe yang sudah melewati masa fermentasi ideal. Warnanya mulai kehitaman disertai bau menyengat.

Penulisan Serat Centhini digagas Pakubuwono V Kasunanan Surakarta. Selain kuliner, buku ensiklopedia Jawa ini menghimpun pengetahuan sejarah, pendidikan, geografi, agama, tasawuf, spiritual, ramalan, hingga sulap. Dalam kitab itu juga dibahas adat istiadat, ritual, etika, psikologi, flora-fauna, obat-obatan, serta kesenian.

Pada segmen kuliner, Kediripedia.com menemukan narasi bahwa sambal tumpang diuraikan sebagai makanan yang memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Jamuan ini dihidangkan saat masyarakat menggelar hajatan pernikahan, kegiatan gotong-royong, maupun menjamu tamu seperti kisah Cebolang. Penganan tersebut juga marak diperjualbelikan saat pertunjukan wayang.

Serat Centhini. (Foto: Kemdikbud.go.id)

Hingga kini, penjual sambal tumpang masih banyak dijumpai di daerah-daerah yang dulunya di bawah pemerintahan Mataram Islam. Salah satunya, kawasan Kediri, Jawa Timur. Di wilayah yang terbelah arus Sungai Brantas ini, sambal tumpang dijual di warung-warung pedesaan hingga urban.

Saat malam hari, puluhan pedagang nasi tumpang berjejer di trotoar Jalan Dhoho, Kota Kediri. Para penjual mulai menjajakan kuliner tradisional ini ketika komplek pertokoan itu sudah tutup. Meja, kursi, dan beberapa lembar tikar digelar mulai jam 9 malam hingga menjelang subuh.

“Resep sambal tumpang saya pelajari dari para pendahulu,” kata Tinung, salah seorang penjual, Selasa, 19 November 2024.

Proses pembuatan sambal tumpang yang dijajakan perempuan 67 tahun itu tak berubah sejak ratusan tahun silam hingga sekarang. Bahan utamanya adalah tempe yang dibusukkan selama tiga hari. 

Tempe semangit itu direbus sebanyak dua kali. Pada rebusan kedua, rempah-rempah tambahan dimasukkan. Antara lain, potongan lengkuas, kunyit, cabe kecil dan besar, daun bawang, daun jeruk, bawang merah ,bawang putih, dan santan.

Menurut Tinung, dulunya sambal tumpang hanya dihidangkan dengan aneka sayur yang direbus. Misalnya, daun bayam, singkong, pepaya, kenikir, dan irisan buah pepaya muda. Sedangkan lauknya adalah peyek, kerupuk, tahu, tempe, dan lento. Seiring zaman, hidangan pendukung ditambah. Misalnya, ayam, babat, paru, ampela, ati, telur, dan perkedel.

“Dulu wadahnya pakai piring pincuk daun pisang, tapi kini beralih menggunakan piring plastik,” kata Tinung.

Perubahan wadah sajian ini dikarenakan daun pisang yang kian jarang. Kalaupun ada, harganya mahal. Selama 20 tahun berjualan, Tinung juga mempertahan posisi penataan lapak yang diajarkan para pedagang terdahulu.

Pedagang sambal tumpang yang eksis seperti Tinung masih banyak dijumpai di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di saat kuliner tradisional lain sepi peminat bahkan terancam punah, sambal tumpang masih bertahan sejak 4 abad silam hingga sekarang. Ia tetap bertumbuh dan bersaing di era masyarakat yang mulai menggemari makanan cepat saji. (Kholisul Fatikhin, Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kedirikultur
Previous Post

Seribu Pohon Ditanam di Area Candi Klotok

Next Post

Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Juga Wajib Punya KTP

Next Post
Seribu Pohon Ditanam di Area Candi Klotok

Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Juga Wajib Punya KTP

Indeks Pembangunan Statistik Kota Kediri Meningkat pada 2024

Merayakan Hari Bersih-bersih Sedunia dengan Lomba Mewarnai

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (110)
  • DESTINASI (112)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (223)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA