• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Thursday, 11 December 2025
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Warga Kota Kediri Kini Bisa Mengurus Izin Usaha di Kantor Kelurahan

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home PEOPLE

Kehidupan Anak-anak di Komplek Pelacuran Krian dan Gedangsewu Kediri

29 Jan 2025
in PEOPLE
Reading Time: 4 mins read
0
Kehidupan Anak-anak di Komplek Pelacuran Krian dan Gedangsewu Kediri

Anak-anak yang hidup di tengah eks-lokalisasi Krian. (Foto: Dimas Eka Wijaya/Kediripedia.com)

HUJAN deras mengguyur kawasan eks-lokalisasi Krian, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Di jalanan becek itu, sebuah motor melaju kencang. Rodanya menggilas kubangan air hingga percikannya mengenai dua anak lelaki, sebut saja Bayu dan Enggar. Raut muka bocah 8 tahun itu tampak kesal, lalu melontarkan umpatan.

Sejak lahir, keduanya hidup di tengah lokasi pelacuran. Sore itu, mereka asyik bermain hujan sambil menendang bola, bersepeda, dan berkejar-kejaran. Keseruan terhenti ketika seorang pekerja seks komersial (PSK) bertengkar dengan pria pengunjung. Bayu dan Enggar hanya diam menonton adu mulut di tengah jalan itu.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Yayasan Tifa: Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah Pelanggaran HAM Struktural

Di Munjungan Trenggalek, Undangan Nikah Dipajang di Jalan dengan Banner Mirip Caleg

Benteng Parasbang, Bukti Perlawanan Arek Malang di Kasembon

“Kalau malam lebih ramai, banyak mas-mas yang datang,” kata Bayu, Jumat, 24 Januari 2025.

Murid kelas 2 sekolah dasar itu sudah mengenali pria pengunjung eks-lokalisasi Krian. Dari yang sekadar ngopi, nongkrong, hingga pesta minuman keras. Sehari-hari, dia juga kerap melihat para lelaki yang bercengkrama dengan PSK.

Bayu hafal betul lagu-lagu populer dangdut koplo. Ibunya, sebut saja Tari, sehari-hari membuka warung kopi dan karaoke. Teras rumah dijadikan cafe, sedangkan ruangan tengah disulap menjadi room atau bilik-bilik karaoke.

Saat malam hari, bocah itu banyak beraktivitas di ruang belakang. Saat sedang belajar, dia mengaku terganggu dengan suara keras dari bilik karaoke. Selain itu, orang tuanya juga jarang mendampinginya belajar.

“Bayu belajarnya hanya di sekolah dan mengikuti les sepulang sekolah saja,” kata Tari.

Ibu dua anak itu menambahkan, rutinitas belajar Bayu di rumah hanya mengerjakan tugas sekolah. Tari membantu menyiapkan buku-buku tugas yang harus dikerjakan. Selebihnya, dia kembali bekerja mengelola karaoke.

Tari sudah menekuni usaha di eks-Lokalisasi Krian lebih dari sepuluh tahun. Bisnis dijalankan bersama suaminya. Perempuan 40 tahun itu tak melarang anaknya ikut menemani bekerja. Dia terpaksa membiarkan Bayu melihat para PSK menjajakan diri, serta pesta-pesta minuman keras.

Kawasan eks-lokalisasi Krian di Kediri selatan. (Foto: Dimas Eka Wijaya/Kediripedia.com)

Menurut Tari, anak-anak lain di kawasan itu sudah terbiasa menjumpai aktivitas orang dewasa. Kepada Bayu, dia memberi pemahaman apa-apa saja yang tidak boleh ditiru.

“Yang penting anak-anak saya larang merokok dan minum-minuman keras,” ujar Tari.

Selama ini, anaknya taat pada perintah tersebut. Meski hidup di kawasan prostitusi, mereka tetap berkegiatan seperti anak pada umumnya. Di antaranya sekolah, bermain, belajar, dan mengikuti kegiatan di Taman Pendidikan Al-qur’an (TPQ).

Potret kehidupan anak di sekitar pelacuran juga dijumpai di eks-lokalisasi Gedangsewu, Pare, Kabupaten Kediri. Belasan anak tiap hari lalu lalang melewati jejeran rumah bordil. Yaitu ketika pergi ke TPQ dan bermain di lapangan sore hari. Saat malam hari ingin ngemil, anak-anak membeli makanan ringan di toko yang terletak di tengah kawasan prostitusi itu.

Eks-lokalisasi Gedangsewu beroperasi sejak tahun 1970. Di siang hari, hampir tak ada perbedaan antara rumah pelacuran dengan hunian warga.

Febri, salah seorang warga, sejak kecil sudah hidup berdampingan dengan lokalisasi. Di usianya yang kini menginjak 33 tahun, dia terbiasa menerima stigma buruk masyarakat luar.

“Saat SMA, saya kerap dituduh sebagai peminum, bahkan memiliki hubungan dengan PSK,” kata pria yang kini menjadi ustadz di TPQ dekat lokalisasi itu.

Rumah Febri hanya berjarak sekitar 10 meter dari lokasi prostitusi. Dia mengaku termasuk orang yang selamat karena tak terjerumus ke dunia malam.

Banyak teman sebayanya putus sekolah, kemudian meninggalkan rumah untuk bekerja atau menikah. Beberapa di antaranya bahkan turut berkecimpung di lokasi prostitusi.

Febri hidup layaknya masyarakat pada umumnya. Dia menikah dan memiliki satu anak perempuan berusia 9 tahun.

Anak-anak bermain di dekat eks-lokalisasi Gedangsewu. (Foto: Dimas Eka Wijaya/Kediripedia.com)

“Saya melarang anak bermain di kawasan prostitusi,” ujarnya.

Dia sebisa mungkin mencegah anaknya melihat langsung kegiatan prostitusi. Selebihnya, dia mengedukasi sebagai perempuan harus menutup aurat. Di usia menjelang remaja, anaknya terus diajarkan hal-hal positif. Misalnya, mengikuti kegiatan TPQ, mengajak pengajian di luar desa, mengikuti les, dan dilarang keluar malam.

“Tumbuh kembang anak itu dipengaruhi apa yang dia lihat, entah positif atau negatif.” kata Bety Malia Rahma Hidayati, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri.

Direktur PT. Berlian Psycology Care itu menambahkan, anak-anak yang hidup di sekitar lokalisasi tetap berkembang selayaknya anak pada umumnya. Masalah baru muncul ketika usia anak menginjak remaja. Sejumlah aspek yang terpengaruh di antaranya perubahan fisik, kematangan berfikir, kecakapan, dan kepribadian.

Pada tahap itu, mereka bisa mengingat dengan jelas, bahkan menjadi peniru ulung. Apa yang mereka lihat dan rasakan akan terbawa hingga dewasa. Keluarga harus menjadi benteng, mendampingi pertumbuhan anak dengan pola asuh yang sesuai. (Dimas Eka Wijaya)

Tags: #headline#Kediri
Previous Post

Harga Bahan Pokok Stabil Selama Libur Panjang Januari 2025

Next Post

Sampah Menumpuk di Pondasi Jembatan Lama Dibersihkan

Next Post
Produk UMKM Kota Kediri Perlu Didaftarkan ke HAKI

Sampah Menumpuk di Pondasi Jembatan Lama Dibersihkan

Produk UMKM Kota Kediri Perlu Didaftarkan ke HAKI

Produk UMKM Kota Kediri Perlu Didaftarkan ke HAKI

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (109)
  • DESTINASI (109)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (204)
  • KULTUR (221)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA