• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Tuesday, 21 April 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Sayonara Wijang Songko, Stasiun Radio Tertua di Kota Kediri Berhenti Beroperasi

    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Film Cindelaras Membangkitkan Teater Lewat Sinema

08 Mar 2023
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
cuplikan film cindelaras

Adegan film saat Cindelaras dan Candra Kirana terusir dari rumah

Seorang perempuan tampak menangis tersedu-sedu di jalanan bersama seorang Wanita tua. Mereka menyeberangi jembatan dengan wajah yang murung. Si perempuan yang berjalan dalam kondisi hamil itu bernama Candra Kirana. Ia harus terusir dari rumahnya sendiri karena sebuah fitnah.

Cuplikan adegan di atas adalah salah satu adegan yang terdapat dalam film berjudul Cindelaras. Sebuah film yang dikerjakan oleh para seniman teater dan pelajar yang ada di Kota Kediri. Film berdurasi 70 menit tersebut mengadaptasi salah satu kisah dari Panji sebagai rujukan utamanya.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Pemicu Kota dan Kabupaten Kediri Terpisah

Film Tragedi 1965 Blitar Diputar di Prancis dan Jerman

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Peluncuran film Cindelaras bersamaan dengan acara Temu Teater Kediri Raya Sabtu, 17 Desember 2022. Dalam acara yang diselenggarakan di Warung Setogo Goerih, Pakelan, Kota Kediri tersebut hadir beberapa komunitas teater. Mereka antara lain, Teater Merah Putih, Adab, Kanda, Veteran Satoe, Segara, Cowboy dan Gusti. Tampak juga pegiat seni teater, Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Kediri, budayawan, seniman dan mahasiswa. 

Nono Moejiono, pemrakarsa film Cindelaras menyatakan kekhawatirannya terhadap seni peran, utamanya teater. Maka dari itu ia bersama Teater Merah putih yang ia kelola berusaha membuat film yang menggabungkan seni teater dan kearifan lokal. Ia dibantu oleh Sanggar Jampi Sae dan Teater Veteran Satoe SMAN 1 Kediri dalam proses penggarapannya.

Secara garis besar film ini menceritakan sosok hartawan bernama Inu Kertapati yang mempunyai dua istri. Galuh Ajeng, istri keduanya merasa iri kepada Candra Kirana, istri pertamanya yang sedang hamil karena lebih disayang. Akhirnya ia memfitnah Kirana bahwa ia diracun dan berusaha dibunuh. Kertapati yang mendengar hal itu langsung marah dan mengusir Kirana dalam keadaan hamil.

Latar berganti 12 tahun kemudian. Inu Kertapati membuat lomba melukis untuk anak-anak, tak disangka terdapat satu lukisan yang menggambarkan sosok istri lamanya, Candra Kirana. Pelukis tersebut adalah Cindelaras. Setelah ditelusuri, tenyata ia adalah putra dari Candra Kirana. Karena merasa bersalah Kertapati mencari Candra Kirana dan putranya hingga ke hutan, namun setelah bertemu Kirana menolak karena merasa sudah dikhianati.

Lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini mengaku memilih mengangkat cerita Cindelaras agar bisa dinikmati segala kalangan dan berisi banyak pelajaran hidup. Agar dapat di terima oleh masyarakat, terdapat sedikit perubahan alur cerita dan penggunaan latar waktu saat ini.

“Nama-nama karakter dipertahankan agar generasi sekarang mengenal tokoh-tokoh panji,” Ujar Nono MJ, sapaan akrabnya saat ditemui usai pemutaran film.

Selama kurang lebih 3 bulan Nono dan tim membuat film tersebut, mulai dari pembuatan naskah, pengambilan gambar dan editing. Film bertemakan anak-anak ini sudah melewati 2 kali screening sebelum di tampilkan di khalayak umum.

Laki-laki berumur 66 tahun ini mengaku masih banyak hal yang kurang dalam film ini, terutama dalam hal pengambilan gambar dan akting pemain. Semua proses film ini dikerjakan oleh para pelajar dan pegiat teater yang masih awam terkait film. Namun dengan segala kekurangan yang ada, ia berharap film ini mampu memberikan edukasi kepada anak-anak dan penonton.

Mudjino Emje saat membacakan puisi

Setiaji, salah satu anggota majelis pertimbangan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Kediri sangat mengapresiasi adanya temu teater dan peluncuran film Cindelaras. Menurutnya agenda semacam ini dapat mengurai masalah dalam perkembangan dunia peran Kediri hingga ajang silaturahmi antar pegiat seni budaya.

Pemilik Sanggar Jampi Sae ini turut bangga bahwa film Cindelaras ini sukses untuk diluncurkan. Laki-laki asal Sukorame itu berharap agar film karya para pelajar dan pegiat teater Kediri ini dapat menjadi bahan rujukan dalam peningkatan pendidikan karakter.

“Film ini mengajarkan kesabaran, keberanian dan bahayanya iri dengki,” ungkapnya.

Dengan terselenggaranya acara temu teater ini, Dewan Kebudayaan berharap akan terus muncul karya-karya yang lain. Ia bersama tim budaya akan terus mendukung setiap kegiatan dan hasil karya yang ada. Temu teater ditutup dengan penampilan-penampilan monolog dari para perwakilan teater yang datang. (Ahmad Eko Hadi)

Tags: #budaya#headline#Kediri
Previous Post

Para Penari Tunarungu Difilmkan oleh Kediripedia

Next Post

Pengasuh Pondok Pesantren Tertua di Kediri Wafat

Next Post
Pengasuh Pondok Pesantren Tertua di Kediri Wafat

Pengasuh Pondok Pesantren Tertua di Kediri Wafat

Mural Bonek pada game A Space for the Unbound. (Foto: Mojiken Studio)

Game Arek Suroboyo Curi Perhatian Dunia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA