• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Friday, 27 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home KULTUR

Bahasa Ngapak Tak Mengenal Kasta

15 Jun 2022
in KULTUR
Reading Time: 3 mins read
0
Bahasa Ngapak Tak Mengenal Kasta

BAHASA Jawa mulanya tidak mengenal tingkatan seperti krama ngoko, madya, dan inggil. Kasta bahasa itu baru muncul sekitar abad 17 pada pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Di bawah kepemimpinan Raja Danang Sutawijaya, sistem feodal dibuat untuk membedakan kelas sosial di masyarakat. Termasuk, bahasa yang memiliki tingkatan atau istilahnya unggah-ungguh.

Kooptasi budaya tersebut menyebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, ada kelompok masyarakat yang tak terpengaruh budaya buatan Mataram Islam, salah satunya yaitu kawasan Eks-Karisidenan Banyumas. Sehingga, terdapat perbedaan mencolok dari segi pengucapan bahasa sehari-hari. Dialek Banyumasan dikenal dengan Ngapak, sedangkan bahasa Jawa sistem Mataram disebut dengan bandhekan atau bahasa wetanan.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Jejak Penumpasan Komunisme di Pagar Rumah Berornamen Pancasila dan UUD 1945

Rampogan Macan, Panggung Pembunuhan yang Memicu Punahnya Harimau

Laksamana Laut Makassar yang Terasing di Pegunungan Malang

“Dialek Banyumasan yang sejak dulu sudah egaliter tidak terpengaruh kebudayaan Mataram Islam,” kata Ahmad Tohari, Kamis 5 Mei 2022.

Budayawan Banyumas itu menjelaskan, ekspansi budaya keraton Jawa tidak berpengaruh pada orang Banyumasan salah satunya karena kondisi geografis. Wilayah eks-Karsidenan Banyumas diapit dua sungai besar yang menjadi benteng pengaruh kerajaan, baik itu Jawa bahkan Sunda. Di sebelah barat, kekuasaan Kerajaan Sunda Priangan dibatasi Sungai Citanduy yang terletak di Banjar Patroman. Sedangkan sebelah timur, pengaruh kebudayaan baru Mataram Islam hanya sampai di Sungai Progo.

Kondisi tersebut memunculkan istilah Adoh Ratu Cedhak Watu yang artinya jauh dari penguasa dekat dengan bebatuan. Ungkapan itu menggambarkan aktivitas sosial dan budaya warga Banyumas yang hidup berdampingan dengan sungai, sawah, dan hutan.

“Bahasa Banyumasan atau Pangiyongan bisa dikatakan adalah bahasa kaum merdeka,” ujar Ahmad Tohari.

Orang Banyumasan mempunyai sistem bahasa dan budaya sendiri. Jika umumnya bahasa Jawa sekarang memakai bunyi vokal huruf “o”, bahasa Penginyongan menggunakan “a”. Contohnya, songo diucapkan sanga, piro menjadi pira, dan sopo jadi sapa. Secara fonologi, dialek Banyumasan masih mempertahankan sastra Jawa Kuno atau sansekerta. Keunikan pengucapan juga dijumpai pada kuliner, jika masyarakat umumnya menyebut soto, di Banyumas dikenal dengan Sroto. Baca juga: Mencicipi Sroto di Depot Raja Soto Lama H. Suradi Banyumas

Dari segi budaya wayang, Banyumas mempunyai lakon tersendiri yang disebut Gragag Banyumasan. Cerita pewayangan ini berbeda dengan gaya dari Solo dan Jogjakarta. Misalnya, salah satu tokoh Punakawan bernama Bawor yang tidak pernah menggunakan bahasa krama ketika berbicara kepada dewa sekalipun.

Sosok Bawor inilah yang menjadi representasi dari masyarakat penutur dialek Ngapak. Nilai filosofis yang terkandung di dalamnya yaitu menganggap semua orang memiliki kesamaan derajat. Hal itu masih satu prinsip dengan Bahasa Banyumasan yang bersifat egaliter atau tidak ada kasta. Sehingga, dalam percakapan sehari-hari, Ngapak disebut bahasa yang blakasuta atau apa adanya.

Baca juga: Bahasa Ngapak yang Lucu Itu Ternyata Berasal dari Kalimantan

Selain dialek Banyumasan, ada sejumlah kelompok masyarakat di Jawa yang tidak menganut budaya Mataram Islam. Di antaranya, dialek Bahasa Madura, Bahasa Tengger di kawasan lereng Gunung Semeru, dan Bahasa Osing di Banyuwangi. (Ryan Dwi Candra)

Tags: #banyumas#headline#ngapak#pilihan
Previous Post

Direktur Lembaga Survei Banting Setir Jadi Peternak Kambing

Next Post

Aktivis Sudut Kalisat Ikut Pameran Seni Dunia di Jerman

Next Post
Aktivis Sudut Kalisat Ikut Pameran Seni Dunia di Jerman

Aktivis Sudut Kalisat Ikut Pameran Seni Dunia di Jerman

Solidaritas Bikin Kaos Buat Ongkos Terbang ke Frankfurt

Solidaritas Bikin Kaos Buat Ongkos Terbang ke Frankfurt

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (114)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA