• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Monday, 19 January 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

    Sejumlah Bahan Pokok di Kota Kediri Turun Harga Jelang Lebaran

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home SURYAPEDIA

Formula Untuk Menangani Krisis Air Di Pulau Bali

20 Feb 2018
in SURYAPEDIA
Reading Time: 2 mins read
0
Formula Untuk Menangani Krisis Air Di Pulau Bali

Bali yang mahsyur sebagai destinasi favorit pariwisata, kini mengalami krisis cadangan air bersih. Informasi tersebut didapat dari data penelitian IDEP Foundation, salah satu lembaga di Pulau Dewata yang concern menangani masalah lingkungan. Jika tidak segera ditangani, diperkirakan dalam kurun 25 tahun ke depan Bali akan mengalami krisis ekologi.

Data dari IDEP Foundation menunjukkan kini 60% wilayah di Bali mengalami kekeringan. Penggunaan air tanah secara berlebihan tentu sangat mengkhawatirkan. Pada kawasan wisata yang terletak di wilayah pesisir, air tanah setiap hari dikonsumsi dalam jumlah besar. Alhasil, air tanah semakin berkurang; kemudian memicu air laut masuk menggantikan air tanah hingga radius 2 km dari bibir pantai.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Kisah Cinta Nyi Roro Kidul Dipersembahkan di Dhoho Night Carnival

Tepat di Hari Pahlawan, Bandara Dhoho Kediri Membuka Rute Penerbangan Internasional

Mulai 10 November 2025, Bandara Dhoho Kembali Melayani Rute Penerbangan Kediri-Jakarta

“Sejak tahun 2012 Bali mengalami penurunan kualitas air bersih,” kata Komang Arya Ganaris, salah seorang pengelola IDEP Foundation dalam acara Study Banding dan Media Gathering PT Gudang Garam Tbk. di Harper Hotel Kuta, Sabtu, 17 Februari 2018.

Komang menambahkan, salah satu daerah yang kini rawan yaitu Denpasar. Ibukota provinsi itu menjadi wilayah titik keramaian massa paling masif. Menjadi pusat perekonomian dan pariwisata, kebutuhan mendasar akan vitalnya fungsi air tak terelakkan. 

(Sumber: IDEP Foundation)

Agar krisis ekologi tidak terjadi, IDEP Foundation berupaya melakukan mitigasi bencana. Pada tahun 2013, dicanangkan program Bali Water Protection (BWP). Formulasi sederhana yang masuk akal dilakukan, adalah dengan membuat sumur-sumur resapan. Ide dasarnya, memaksimalkan guyuran air hujan agar terserap maksimal ke dalam tanah. Pembuatan sumur resapan ini sangat penting, karena tren konstruksi bangunan di daerah pariwisata di Bali, kebanyakan tak memberi celah pada air hujan langsung terserap ke tanah.

“Kita menamai sumur resapan ini dengan sebutan mesin pemanen air hujan,” kata Komang.

Sistem pada sumur resapan, mengarahkan air hujan agar tidak begitu saja terbuang ke laut. Untuk hasil yang maksimal, setidaknya tiap rumah di Bali harus ada satu sumur resapan. Selain dapat menambah cadangan air tanah, potensi banjir dapat diminimalisir.

Hingga tahun 2018, IDEP Foundation telah membangun ratusan sumur resapan yang tersebar di seluruh wilayah rawan Pulau Bali. Peletakannya, disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing daerah. Sumur terbagi dalam tiga jenis; dangkal, sedang, dan dalam. Ada yang digali, selebihnya menggunakan pipa.

“Di tahun 2015 kita menggandeng Politeknik Negeri Bali, kemudian mengkampanyekan hasil penelitian ini ke 300 sekolah di seluruh pulau Bali,” tambah Komang. Selain itu, ia mengajak masyarakat Bali menengok kembali ajaran Agama Hindu, sebagai pijakan untuk bijaksana memandang pentingnya air.

Sementara itu, Kabag Humas PT. Gudang Garam Tbk., Iwhan Tri Cahyono mengatakan, konsep maupun teknis yang telah dilakukan oleh IDEP Foundation, bisa diterapkan di daerah rawan kekeringan di Kediri dan sekitarnya.

“Ini merupakan konsep yang menarik, semoga bisa diarahkan ke hal-hal positif ke depannya,” kata Iwhan. (Kholisul Fatikhin)

Tags: #headlineSuryapedia
Previous Post

Buka Mata, Ajang Pamer Foto Kawula Muda

Next Post

Pelajaran Seni Budaya Di Sekolah Tak Hanya Sekadar Wacana

Next Post
Pelajaran Seni Budaya Di Sekolah Tak Hanya Sekadar Wacana

Pelajaran Seni Budaya Di Sekolah Tak Hanya Sekadar Wacana

Memacu Nyali Sembari Gelar Aksi Peduli

Memacu Nyali Sembari Gelar Aksi Peduli

JELAJAHI

  • BISNIS (110)
  • DESTINASI (112)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (223)
  • PEOPLE (242)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA