• HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
Sunday, 8 March 2026
Kediripedia.com
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
    Pusat Bisnis Opium Kediri dan Lahirnya Cina Berpangkat

    Tahu Kediri, Berkelindan Antara Mongol dan Tiongkok

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Nabatiyasa, Raksasa Minyak Kelapa Kediri yang Hilang dari Peta Industri Dunia

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Mahasiswa Kediri Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Mainan Tradisional

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

    Kerajinan Air Mata Dewa dari Lembah Gunung Wilis

  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA
No Result
View All Result
Kediripedia.com
Home DESTINASI

Pegunungan Karst Tulungagung Diusulkan Menjadi Museum Kehidupan Manusia Purba

08 Dec 2022
in DESTINASI
Reading Time: 3 mins read
0
Pegunungan Karst Tulungagung Diusulkan Menjadi Museum Kehidupan Manusia Purba

Salah satu gua di pegunungan karst Tulungagung. (Foto: Dwi)

SEKITAR 100 juta tahun silam, daerah Tulungagung adalah dasar laut yang mengalami orogenetik atau pergeseran lapisan tanah secara vertikal. Proses alamiah terangkatnya kulit bumi itu membentuk sebuah daratan, serta jajaran gunung kapur yang dikenal dengan karts atau pegunungan kendeng.

Pada Juli 2022, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) mengusulkan pegunungan karts Tulungagung sebagai kawasan geopark. Dari penelitian yang dilakukan selama 3 tahun, wilayah ini menyimpan rekaman peristiwa penting seperti sejarah aktivitas pergeseran lempeng bumi, makhluk hidup, serta budaya dari zaman manusia purba.

Jelajahi pustaka Kediripedia

Pecinan Menghadap Kali Brantas, Konsep Kota Riverfront di Kediri

Patung Macan Kediri dan Menara Eiffel Prancis, Dicemooh Lalu Dipuja

Huruf Era Kediri Kuno Mempercantik Jembatan Brawijaya

Geopark Tulungagung rencananya dinamai The Home of Wajak Man. Sebutan itu merujuk pada penemuan fosil manusia purba pada 24 Oktober 1888. Saat itu, ahli geologi Belanda B. D. van Rietschoten tidak sengaja menemukan fosil ketika eksplorasi bebatuan marmer. Benda purbakala seperti tulang, tengkorak, dan kapak perimbas lalu diserahkan kepada Eugene Dubois. Dia adalah dosen anatomi asal Belanda yang terobsesi membuktikan adanya spesies penghubung antara manusia dan kera pada teori evolusi Charles Darwin.

Dubois meneliti dan menandai penemuan di Tulungagung dengan sebutan Homo Wajakensis. Sebutan ini diambil dari nama lokasi penggalian yang berada di Distrik Wajak, yang sekarang berganti nama menjadi Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.

“Fosil tersebut kini disimpan di Museum Belanda, sedangkan di Museum Tulungagung hanya replikanya saja,” kata M. Dwi Cahyono, Dosen Sejarah dan Arkeologi Universitas Negeri Malang, Kamis, 23 November 2022.

Fosil Homo Wajakensis. (Foto: Museum Natural History)

Identifikasi fosil menghasilkan kesimpulan jika temuan ini adalah manusia modern. Indikasinya yaitu badan tegak, kapasitas otak 1300 cc, tinggi sekitar 130 sampai 170 sentimeter, dan berat badan sekitar 80 sampai 90 kilogram. Manusia purba yang hidup sekitar 40 ribu tahun silam itu memiliki tiga mata pencaharian. Mereka sudah mahir mengumpulkan makanan dari alam, meramu bahan-bahan dari flora, dan berburu hewan darat maupun laut.

“Penemuan Homo Wajakensis itu diduga bukan satu-satunya, kemungkinan masih ada jejak kepurbakalaan di sekitar lokasi penambangan marmer di Tulungagung,” kata Dwi Cahyono.

Pria kelahiran Tulungagung itu menilai perlunya penelitian lebih lanjut, serta mengimbau penambang marmer agar berhati-hati karena bisa merusak benda-benda bersejarah. Sebab, manusia purba cenderung memilih tempat hunian di tebing gunung kapur yang dekat daerah rawa. Mereka juga tinggal di gua agar mudah menandai waktu terbitnya matahari. Kecenderungan menetap di pegunungan kapur serta gua juga didapati di penemuan manusia purba di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi.

Penemuan Homo Wajakensis kini ditandai dengan sebuah monumen. Letaknya cukup jauh dari perkampungan warga Desa Gamping, Tulungagung. Di dekat monumen itu terdapat 7 gua tempat ditemukannya jejak manusia purba, yaitu Gua Wadjak, Joethol, Karang, Suli, Tritis, Tembus, Tatahan, dan Hoegrot.

Terowongan terdekat dari monumen adalah Gua Joethol atau yang biasa dikenal warga dengan sebutan Gua Tembus. Perlu tenaga ekstra untuk bisa mengunjungi tempat ini. Lokasinya tersembunyi di tengah hutan dengan medan berupa jalan setapak yang dipenuhi pepohonan.

Bagi siapa saja yang hendak berkunjung ke tujuh gua itu akan dipandu oleh Kelompok Sadar Wisata Wajakensis. Mereka bisa menjadi tour guide yang selalu siap sewaktu-waktu asal ada konfirmasi terlebih dahulu.

“Pengunjung biasanya dari kalangan pelajar dan media,” ujar Abdoel Kholik, salah seorang pemandu wisata.

Desa Gamping adalah satu dari 19 kawasan yang rencananya menjadi daerah geopark. Selain di lokasi penemuan Homo Wajakensis, kawasan geopark berada di Gunung Budeg, Kecamatan Kalidawir, Pucanglaban, Besuki, Gondang dan Pagerwojo. Wilayah itu akan dikembangkan sebagai konservasi, edukasi, dan pembangunan wisata berkelanjutan. (Nike Dwi Ardianti, Mahasiswa Program Studi Sosiologi Agama IAIN Kediri, sedang magang di Kediripedia.com)

Tags: #destinasi#headline#SEJARAH#tulungagung
Previous Post

Ada Markas Laskar Diponegoro Saat Melawan Belanda di Kediri

Next Post

Guru Ngaji Pesantren Tebuireng Jadi Pelawak

Next Post
Guru Ngaji Pesantren Tebuireng Jadi Pelawak

Guru Ngaji Pesantren Tebuireng Jadi Pelawak

50 Ribu Scooterist dari Seluruh Indonesia Banjiri KSF 5

50 Ribu Scooterist dari Seluruh Indonesia Banjiri KSF 5

Discussion about this post

JELAJAHI

  • BISNIS (111)
  • DESTINASI (113)
  • EDUKASI (92)
  • KOMUNITAS (205)
  • KULTUR (224)
  • PEOPLE (246)
  • SURYAPEDIA (87)
  • Uncategorized (7)
  • Video (2)
Kediripedia.com

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA

KERJASAMA

  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber

SOSIAL MEDIA

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • HEADLINES
  • BISNIS
  • EDUKASI
  • DESTINASI
  • PEOPLE
  • KULTUR
  • KOMUNITAS
  • SURYAPEDIA

© 2022 PT. KEDIRIPEDIA MEDIA UTAMA